Maaf


Siantan-Pontianak, 20 Juli 2004
Wanita itu terbaring dengan serangkaian selang disekujur tubuhnya. Komplikasi penyakit jantung, darah tinggi, dan paru-paru menggerogoti bobotnya yang dulu subur berisi. Dari balik selimut terlihat jelas tulang-belulangnya tersembul. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak mencari aliran udara, menghirup, dan mengeluarkan napas dengan tersengal-sengal. Ia tampak tersiksa sekali.

Aku mengintip dari kaca pintu, ragu-ragu untuk masuk. Bukan saja karena
takut, tapi juga karena enggan. Enggan melihat kondisi sakitnya, enggan bertegur sapa dengan orang-orang yang mungkin ada di dalam ruangan itu, dan enggan berdamai dengan perasaan sakit hati yang selama belasan tahun terpupuk hebat dalam hatiku. Tak mudah menghapus luka lama.

Siang ini aku baru saja sampai di Jakarta, setelah tiga hari mengikuti pameran di
Bali. Taksi yang kutumpangi dari bandara sudah berhenti di depan rumah. Ponselku tiba-tiba berbunyi. “Pulanglah, Mei Cen. Waktunya sudah tiba.”, suara yang sudah sangat kukenal langsung menyergap pendengaranku.

Aku tertegun, sementara sopir taksi sudah melotot tak sabar, hendak menagih ongkos. ” Jangan keraskan hati lagi, sudah saatnya mengakhiri semua kebencian. Pulanglah, atau kau akan menyesal seumur hidup!”, suara itu kembali terdengar, kali ini nadanya menyakitkan.

Sudah hampir sebulan ini, kata-kata yang sama didengungkan terus oleh sang penelepon. Aku sudah katakan padanya, tak perlu repot-repot membujuk lagi. Aku tetap pada keputusanku, tidak bersedia memenuhi keinginannya. Titik.

Namun, anehnya, saat berada di Bali, ketika seharusnya aku sibuk mengamati pernak-pernik kegiatan pameran, aku malah sering terbengong-bengong. Seperti mantra, isi pesan telepon itu berbalik menghantui, membuat setiap detik hidupku menjadi seperti bara api.
Batinku bergolak hebat. Antara rasa sayang dan dendam. Antara rasa iba dan kepongahan. Sejujurnya, aku sudah merasa sangat letih menanggung beban ini. Mungkin, Tuhan memang khusus merencanakan saat ini untuk mempertemukan kami berdua. Saat kami harus bicara tentang kepahitan masa lalu.

Dengan tangan masih memegang ponsel erat-erat, aku menghitung dalam hati. Sudah berapa lama kenangan buruk itu menyiksaku? Lebih dari lima belas tahun. Sama sekali bukan waktu yang sebentar. Jauh dari dalam lubuk hati, aku benar-benar ingin mengakhiri semuanya. Mulai belajar memaafkan lagi, belajar menyayangi lagi, belajar melupakan segala sesuatu yang telah terjadi, belajar untuk memiliki hati dan jiwa yang baru. Ya, aku harus segera memulainya. Sekarang. Dengan mantap, aku meminta sopir taksi memutar kembali mobilnya dan mengantarku ke bandara.

Karena ada kerusakan teknis, lewat pukul delapan malam barulah pesawat mendarat di Pontianak. Untuk sampai di rumah sakit tempat Mama dirawat, aku masih harus meneruskan perjalanan sekitar empat puluh menit lagi.

Menggunakan mobil sewaan. Di dalam mobil yang pengap karena asap rokok dan keringat lima orang lainnya, aku kembali mempertanyakan niat
hatiku. Bagaimana jika Mama menolak bertemu denganku? Bagaimana jika ternyata seluruh keluarga juga ikut menghina, lalu mengusirku? Kalau itu yang terjadi, berarti harga diriku akan remuk dua kali, tanpa sisa sedikit pun. Ya, Tuhan, sudah benarkah keputusanku kali ini?

Di depan salah satu kamar rumah sakit, aku melangkah mondar-mandir tak keruan. Ternyata, bukan hal mudah untuk masuk ke dalamnya, lalu
menyapa, “Apa kabar,Mama? Aku sudah datang!” Untuk menenangkan jantungku yang rasanya berdebar tiga kali lebih cepat, aku segera menyingkir ke ujung lorong yang redup. Dengan gelisah aku bersandar di tembok, sambil berulang kali mengetukkan hak sepatu di lantai yang kusam.

Alangkah jahatnya! Aku memang anak durhaka! Begitu teganya aku membiarkan dia terkapar sendirian di dalam sana, sekarat menghadapi ajal. Padahal, aku sudah mengetahui penyakitnya sejak tiga tahun lalu, tapi tak pernah sekali pun aku berniat menjenguknya, apalagi mendampingi di saat-saat terakhirnya.

Tapi, hei… tunggu dulu! Jahat? Aku jahat? Bukankah wanita itu jauh lebih jahat? Lihat saja apa yang selama ini dia lakukan padaku! Dia bukan saja tidak mengasihiku, tapi juga ingin melenyapkanku dengan segala macam cara. Dia ingin membunuhku! Aku, darah dagingnya sendiri!

Masih teringat jelas pertengkaran kami yang terakhir, yang terhebat, dan
yang paling tak bisa kulupakan. Setiap suku katanya bahkan masih aku
hafal dengan jelas.

“Waktu itu Mama tidak punya pilihan lain, Mei Cen. Mengertilah sedikit! Pikirmu, cuma kamu yang susah, cuma kamu yang dapat masalah? Kamu tidak pikirkan bagaimana keadaan Mama? Enak saja kamu bicara, sepertinya paling pintar sedunia! Semua yang kalian pakai dan makan itu hasil jerih payah Mama, tapi kamu sama sekali tidak tahu terima kasih. Tidak tahu balas budi! Anak tidak tahu diuntung! Benar-benar anak pembawa sial!”

Darahku langsung menggelegak, menyembur memanasi kepala. Anak pembawa
sial, itulah ungkapan yang paling sering aku terima selama tinggal di rumah ini. “Mama tidak perlu khawatir lagi soal uang! Mulai sekarang, tanggungan Mama berkurang satu. Aku akan mengganti setiap rupiah yang Mama pakai untuk membiayai hidupku selama ini. Setiap rupiah! Aku bersumpah, tidak akan pernah menginjak rumah ini lagi! Akan kubuktikan, aku bisa hidup tanpa kalian!” jeritku membabi buta, lalu menerjang kamar, dan mengemas barang-barangku.

“Silakan! Silakan kalau kamu mau pergi! Hei, sekali kamu minggat dari rumah ini, selamanya pintu ini tertutup buatmu! Kamu dengar itu? Dasar anak sinting! Sejak di kandungan saja sudah bikin pusing, sudah besar tambah bikin masalah! Anak kurang ajar, anak durhaka! Makin cepat kamu keluar dari rumah ini, makin baik!” teriak Mama, melengking tinggi.

Dengan berurai air mata, aku lemas terduduk di tepi ranjang. Malang benar nasibku. Lahir tak dikehendaki, hidup pun tak punya arti. Berjam-jam lamanya aku menangisi diri, sambil memasukkan barang-barangku yang tak seberapa banyak. Aku tak tahu akan ke mana. Tapi, keinginanku saat itu hanya satu, pergi jauh dan tidak kembali lagi.

Hanyut dalam lamunan, pipiku mulai dibasahi air mata. Kejadian yang lalu itu menyisakan dendam dan kebencian luar biasa di antara aku dan Mama. Aku bertekad, tak ingin lagi menggoreskan namanya dalam hidupku. Begitu juga sebaliknya. Kami bertahan dalam benteng pembenaran diri sendiri. Aku berjuang luar biasa keras demi memenuhi sesumbar sumpahku, tanpa pernah berpikir untuk kembali ke kota ini lagi.

Tapi, suratan hidup tampaknya tak bisa diganggu gugat. Sampai akhirnya, sekarang aku ada di sini. Duduk menatap langit, tak tahu harus berbuat apa. Bulan di ujung rimbunan pohon rupanya sedang malas menyembulkan sinarnya, membuat kulit tanganku makin pucat dan gemetar. Air mataku menetes lagi.

September 1968
Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Rasanya, ruangan ini tak sama dengan yang kemarin. Tidak ada mainan bola yang digantung di atas kepala. Tidak ada gambar ikan berenang dilukis di tembok. Tidak ada balon warna-warni melambai di dekat jendela. Sambil menggeliat melemaskan otot yang masih agak kaku, aku menelengkan kepala. Kenapa sepi sekali? Mana teman-temanku? Bukankah semestinya mereka juga ada di sini, berbaring berjajar dalam boks yang bersekat-sekat? Biasanya teriakan mereka membuat aku marah. Berisik sekali. Walaupun agak menyebalkan, aku sayang pada mereka.

Ingat soal minum, perutku lapar bukan main. Biasanya, wanita berbaju dan bertopi putih selalu datang untuk memandikan dan mendandaniku dengan
bedak wangi. Setelah itu, dia pasti akan mengayun-ayun, sambil menyorongkan botol susu ke mulutku. Ah, enaknya! Aku mulai menggesek gesekkan kaki, terasa lengket. Kenapa, sih, tidak ada yang mengganti popokku? Basah dan dingin menempel di kulit, belum lagi ditambah tiupan angin dari jendela kayu yang terbuka. Coba tunggu sebentar lagi, siapa tahu wanita berbaju dan bertopi putih akan muncul dan menyapaku seperti biasa, “Halo manis, sudah bangun?” Tapi, setelah lama menunggu, pintu itu tetap tertutup. Aduh, aku sudah tak sabar lagi.

Mendadak pintu terbuka dengan keras, membuatku spontan berteriak kaget. Seseorang berjalan masuk. Siapa wanita ini? Kenapa dia tidak berbaju dan bertopi putih? Sambil terisak-isak dengan muka merah, aku mencoba mengingat. Wah, mukanya tidak ramah. Aku pikir dia akan segera menggendong dan memberiku minum, tapi.. Hei, dia kembali berjalan ke arah pintu, membuka, dan menutupnya lagi, seolah tidak peduli pada tangisanku.

Kenapa aku sendirian, dibiarkan kelaparan dan kedinginan seperti ini? Huh, lebih enak tinggal di perut Ibu. Mau makan, tinggal isap. Makanan akan langsung sampai di depan mulut. Mau berhangat-hangat, tinggal bergelung di selimut cairan ketuban. Semua serba enak, tidak perlu capai-capai menangis jika ingin sesuatu Ups! Tunggu dulu! Ibu? Apakah wanita yang tadi datang itu ibuku? Bisa jadi. Berarti, aku sudah ada di rumah dan ini kamarku? Asyik juga, paling tidak aku tidak perlu repot berdesak-desakan tempat dengan teman-teman lain seperti kemarin. Tidak perlu berebut minum, mainan, dan berebut minta perhatian. Aku sendirian. Hore! Aku jadi raja! Enak juga ya, punya ibu. Tapi, mana dia? Oh, itu dia datang lagi. Tapi, kenapa sih, dia selalu membuka dan menutup pintu dengan suara sekeras itu? Telingaku jadi sakit. Aku menangis lagi.

Tangisanku makin keras ketika wanita itu menyentuh dan menyekaku dengan kasar. Rupanya, dia marah padaku karena buang air besar. Lalu bagaimana lagi? Umurku kan baru 5 hari? Aku belum bisa membersihkan kotoranku sendiri. Minumnya mana, Bu? Yah, kok, susunya dingin… Tapi, biarlah, daripada tidak sama sekali. Karena kelaparan dan hanya disuguhi sedikit, aku melengkingkan suara, tanda minta tambah. Walau dengan muka galak dan mulutnya mengomel, dia memberiku sedikit susu lagi.

Setelah menutup jendela, ia lalu membuka bajuku dan menyeka dengan air hangat. Aku asyik memerhatikan wajahnya. Rasanya, wanita berbaju dan bertopi putih yang selalu menemaniku lebih cantik dan kurus, juga harum. Sedangkan wanita di depanku bertubuh agak gemuk dan memiliki raut wajah keras. Pakaiannya mirip seperti gorden. Tapi tak apa, dia adalah ibuku. Hmm.. enaknya aku panggil apa ya? Ibu, Mama, Mami, atau Bunda? Lebih enak Mama. Mudah mengucapkannya.

Wah, setelah mandi aku merasa lebih segar, walau masih kedinginan. Bajuku bertangan pendek, tanpa dibalut kain bedong, tanpa kaus kaki. Bawa aku berjemur di luar, Mama. Sinar matahari begitu menggoda untuk disapa pagi ini. Atau, kalau tidak, dekaplah aku sebentar di dada Mama, karena aku ingin kehangatan.

Aku mencoba menggapai tangan Mama, menampilkan senyum termanisku, berharap ia akan tertawa dan menggelitiki pipiku. Tapi, Mama malah membenahi ember dan baju kotor, lalu kembali menghilang dari balik pintu. Sia-sia aku menunggunya terus pagi ini, berharap ia mau bermain denganku sejenak. Sepanjang sisa hari itu Mama hanya menjengukku tiga kali. Datang melongok untuk mengganti popok dan menyodorkan botol susu yang isinya tak banyak.

Malam hari, aku tidur bersebelahan dengan Mama. Dia hanya mengayunku sebentar, tidak memberi pelukan selamat tidur atau ciuman. Aku menangis sedih karena ingin dininabobokan, tapi Mama malah membalikkan tubuh, memunggungiku. Aku mulai protes dan meronta, tapi yang kudapat adalah cubitan kecil di kaki. Sakitnya.. Lagi-lagi aku menjerit. Makin melengking suaraku, makin dalam Mama menekuk tubuhnya.

Akhirnya, aku menyerah. Karena lelah mengisi hari dengan terlalu banyak tangisan, akhirnya aku tertidur dengan mengulum jempol tanganku. Ini hari pertamaku datang ke rumah, bertemu sosok Mama yang sudah Sembilan bulan mengisi bagian hidupku, tapi aku sudah merasa tertolak.

Januari 1972
Seluruh kejadian itu berulang terus hingga aku menginjak tiga tahun. Walau setiap malam aku tidur dengan Mama, aku hampir tak pernah mendapat pelukan dan ciuman sayang. Paling-paling hanya usapan di kepala. Kata-kata manis, nyanyian kecil, atau dongeng pengantar tidur juga tak aku dapatkan.
Biasanya, kalau Mama bicara, kalimatnya pendek-pendek dan nadanya datar, kadang-kadang agak membentak. Padahal, aku ingin tahu rasanya bermanja-manja, apalagi jika aku sedang sakit. Badan rasanya sungguh tak enak, tidur tak nyenyak, makan pun tak suka. Kalau saja Mama mau sedikit memanjakan aku dengan pelukan, aku sudah cukup terhibur.

Bukan cuma dalam hal sentuhan dan kata-kata saja Mama bersikap pelit, soal keperluanku yang lain juga begitu. Makan dijatah, minum susu dibatasi. Kalau masih lapar, minum saja air putih banyak-banyak, begitu kata Mama. “Di rumah ini bukan cuma kamu yang butuh makan, Mei Cen. Masih ada enam kakak, dua kakak ipar, Tante Lin, Oma, dan Mama. Kita harus saling berbagi, jelas?”, tegur Mama galak, ketika suatu kali aku merengek minta porsi daging gorengku ditambah.

Porsi makan kami di rumah adalah dua kali sehari, sekerat kecil daging dan separuh bagian telur satu kali seminggu, sementara sisanya adalah sayur-mayur saja. Mula-mula, tentu saja aku menolak aturan itu dengan tangisan merajuk dan mulai mengamuk. Tapi, setelah merasakan panasnya sabetan tangan Mama di pantatku, lama-kelamaan aku jadi terbiasa dan bisa belajar menahan lapar lebih lama.

Mandi cukup satu kali saja sehari, malah kalau perlu cuci muka saja sepanjang minggu. Irit air, irit sabun. Kalau kutanya mengapa, jawab Mama singkat saja, “Karena kita bukan orang kaya, Mei Cen. Mengertilah sedikit.” Tentu saja aku belum bisa mengerti apa arti perkataan itu, seperti juga ketidakmengertianku tentang kondisi tangan dan kakiku.

Kedua kakiku selalu ditutup kain menyerupai sepatu dan tidak boleh dilepas kecuali mandi atau tidur. Tanganku juga. Padahal, aku sudah bilang pada Mama bahwa aku kepanasan. Mama berkeras mengatakan bahwa tangan dan kakiku sedang tumbuh membesar. Jadi, harus dibungkus dengan telaten supaya pertumbuhan tulangnya bagus. Seperti buah mangga saja, katanya. Rapat-rapat dibungkus supaya cepat masak.

Kalau kain yang melilit tangan dan kaki itu sering dibuka, nanti pertumbuhannya terganggu, begitu Mama berpesan. Masih belum cukup dengan penjelasannya, Mama merasa perlu untuk mengancam akan memukuli dan mengunciku di kamar gelap berhari-hari, jika aku berani membuka ikatan di tangan dan kakiku, tanpa seizinnya. Jadi, dengan sangat terpaksa aku mengangguk mengiyakan.

Pekerjaanku setiap hari hanya duduk bermain di pojok kamar, ditemani dua boneka bekas yang sudah kumal. Mama tidak mengizinkanku keluar rumah. Tak pernah aku merasakan nikmatnya jalan-jalan pagi, melihat kerumunan burung, berkejaran di tanah lapang, atau naik sepeda di sore hari. Hari-hariku diisi dengan sepi, tak punya teman bicara. Seisi rumah terlalu sibuk untuk diajak bermain. Mama dan adiknya, Tante Lin, harus banting tulang mencari uang karena Papa sudah tak ada.

Mohan Liaw, ayahku yang berdarah Dayak-Tionghoa itu, semasa hidupnya bekerja sebagai penggali sumur. Ia meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika aku masih berada dalam kandungan. Dua kakak laki-laki tertua sudah menikah, tapi masih tinggal serumah. Empat kakak lain punya urusan sendiri karena mereka sudah beranjak remaja dan lebih senang bermain dengan teman pria daripada bermain masak-masakan dengan aku.

Setiap hari pukul dua pagi, Mama dan dua kakak laki-lakiku sudah beranjak pergi ke peternakan di luar kota untuk membeli puluhan ayam. Pulang ke rumah, mereka dibantu empat kakak perempuan mencabuti bulu-bulu ayam dan memotongnya. Pukul lima pagi, Mama dan dua kakak ipar membawanya ke pasar untuk dijual. Pulang ke rumah saat menjelang sore, Mama sudah kelihatan sangat lelah dan aku tidak boleh mengganggunya dengan rengekan untuk menemaniku bermain. Aku juga tidak boleh mengganggu Tante Lin yang sudah lelah karena setiap hari harus membuat kue-kue untuk dijual.

Bermain dengan Oma? Yang benar saja, umur Oma sudah 84 tahun. Kakinya lumpuh, bicaranya sudah tak jelas, telinganya pun tak berfungsi baik. Kerjanya sama denganku. Setiap hari hanya duduk-duduk melamun saja di kursi. Walau begitu, Oma baik karena setiap hari dia pasti memberiku uang, sekadar lima puluh atau seratus rupiah. Aku rajin menyimpannya dalam kotak kecil yang kuamankan di kolong ranjang.

Dibandingkan Mama yang banyak bepergian, Tante Lin lebih memungkinkan untuk menemaniku berlama-lama di rumah. Mengajariku bicara, membacakan buku cerita, menyuapi makan, bahkan membopongku ke kamar mandi karena
aku belum bisa berjalan. Hal yang mengherankan. Karena, aku sering melongok dari jendela dan melihat beberapa anak tetangga seumurku sudah pandai berjalan, bahkan berlari mengejar layang-layang. Sedangkan aku.. berjalan saja tidak bisa. Kalau aku mencoba berdiri, pasti jatuh. Sakit dan ngilu sekali rasanya.
“Mestinya aku sudah bisa berjalan kan, Ma? ” tanyaku suatu sore.
Tampaknya, Mama tidak mendengar sehingga aku harus mengulang pertanyaanku beberapa kali. Kali keempat barulah Mama mengangkat wajah
dari tumpukan baju kotor yang tengah dicucinya. Ia terdiam sebentar, lalu
menjawab lirih,

“Kakimu belum kuat untuk diajak berjalan.”
“Karena kakiku bengkok?”
“Bukan! Umurmu masih kecil, jadi belum bisa jalan sendiri.”
“A Ming dan Budi seumur denganku, tapi mereka sudah pandai berjalan.”
“Mereka lain! Mereka anak laki-laki, kaki mereka lebih kuat.”
“Oh..” Aku mencoba mencerna penjelasan Mama. Mungkin, betul juga
penjelasan Mama. Aku percaya padanya, Mama tak mungkin bohong
“Lalu, kapan kakiku kuat, Ma?”
“Nanti, kalau kamu sudah besar.”
“Kapan aku besar, Ma?”
“Nanti, kalau sudah berumur lima tahun.”
“Oh..” Aku menghitung-hitung dalam hati. Itu berarti aku harus menunggu dua tahun lagi. Hmm.. tidak terlalu lama.
“Lalu, tanganku? Kenapa tanganku juga harus selalu ditutup, Ma? ” Kali ini Mama menghela napas, sambil menghapus keringat di dahi dengan
punggung tangannya. “Supaya tanganmu tidak kedinginan, Mei Cen. Kalau
kedinginan, tanganmu sering kram.
“Kram itu apa?”
“Kejang, susah bergerak.”
“Tapi, nanti tanganku bisa sembuh?”
“Ya, kalau kamu sudah besar.”
“Kalau aku sudah berumur lima tahun?”
“Ya.”
“Tidak perlu pakai kain lagi?”
“Ya.”
“Sungguh? Mama tidak bohong, ‘ kan? Mama janji? ” kejarku dengan nada menuntut. Dalam hati, aku gembira bukan alang kepalang. Asyik, sebentar lagi aku bisa berjalan!

Aku begitu sangat merindukan datangnya hari ulang tahunku yang kelima. Berharap bisa berjalan dan berlari sekuat macan, dan tanganku tak lagi disarungi kain seperti bantal. Sambil menunggu saat yang Mama janjikan itu, aku tetap berusaha belajar berjalan. Minta ampun susahnya! Mencoba berdiri dengan berpegangan pada semua benda yang ada, lalu menyeret kaki untuk melangkah satu dua. Sakitnya jangan ditanya, tapi aku tetap memaksakan diri. Lutut dan siku sudah lebam biru keunguan terkena benturan setiap kali aku terjatuh. Tidak cuma itu. Aku juga sulit menggerakkan jemari tangan untuk mengambil sesuatu, apalagi barang yang kecil. Memegang sendok atau menjumput kancing, misalnya. Jari-jari tangan rasanya kaku dan aneh.

Dan, lagi-lagi Tante Lin datang sebagai penyelamat. Ia berbaik hati meluangkan waktu istirahatnya untuk melatihku menggerakkan kaki dan tangan, sementara Mama dan kakak-kakakku tidak bisa terlalu diharapkan. Karena terlalu memaksa diri berlatih, aku jadi sering menangis karena kesakitan dan kelelahan. Tapi, setiap kali itu juga ucapan Mama bahwa pada umurku yang kelima aku akan bisa berjalan, datang menyemangatiku.

Setiap hari aku rutin mencoreti kalender dengan spidol merah, menghitung hari demi hari, takut kalau ulang tahunku yang kelima bakal terlewat. Nanti aku akan memakai baju terbagus dan mengundang semua teman tetanggaku untuk merayakannya, sambil bermain kejar-kejaran di halaman rumah. Pasti menyenangkan sekali. Cepatlah datang, cepatlah datang! Aku sudah tidak sabar menanti..

September 1973-1983
Sayangnya, mimpi itu tak pernah jadi kenyataan. Tepat di hari ulang tahunku yang kelima, saat ayam masih belum berkokok, aku sudah bangun.
Kunyalakan lampu, turun dari ranjang, lalu merayap, sambil berpegangan pada besi tempat tidur. Sesampainya di depan lemari kaca, aku mencoba berdiri tegak dan berjalan. Tapi,baru beberapa langkah, aku jatuh dan menabrak meja.
Suara dentuman keras langsung membangunkan Mama,berbarengan dengan jatuhnya botol-botol kaca dan gelas.

“Apa-apaan, sih, Mei Cen?” teriak Mama, ketika melihatku terduduk di
antara remukan kaca. Mama memapahku kembali ke ranjang. Aku menangis keras. ” Aku tak bisa jalan! Aku tetap tidak bisa jalan!”
“Kamu kenapa? Kalau mau ambil sesuatu, bilang pada Mama, nanti Mama
ambilkan! Lihat, tuh, barang-barang pecah semua!” suara Mama tinggi.
Mungkin, ia gusar karena tidurnya terganggu. Sudah dua hari Mama tidak berjualan karena sakit flu.
“Hari ini ulang tahunku, Ma!”
“Iya, lalu kenapa?” bentak Mama, sambil memunguti beling.
Tangisku menghebat. Ia tidak ingat janjinya.
“Mama bohong! Mama bohong!” teriakku, sambil melempar bantal dan guling ke arahnya. Tiba-tiba Mama mendekati aku. Tanpa kuduga, ia menampar mulutku dua kali.
“Bisa diam tidak? Subuh-subuh begini teriak-teriak seperti orang gila!
Diam! Diam tidak?” Tangan Mama masih teracung di udara, siap menampar lagi. Raut wajahnya bengis. Aku merapat ke tembok dan menangis tanpa suara. Takut, marah, kecewa, dan sedih.
“Kenapa Mama bohong?” tanyaku, pelan.
“Bohong apa, sih?” jawab Mama, galak.
“Dulu Mama bilang, aku pasti bisa jalan kalau berumur lima tahun. Kata Mama, aku belum bisa jalan karena aku anak perempuan. Masih kecil, masih tiga tahun. Nanti kalau sudah umur lima tahun, baru bisa jalan seperti si Aming. Waktu itu Mama janji kan? Sekarang tanggal 9 September, Ma. Umur Mei Cen lima tahun. Tapi, kenapa Mei Cen masih jatuh kalau berjalan?” Aku menangis lagi.

“Mama bilang begitu?” tanyanya, seakan lupa. Seolah tak terjadi apa-apa, Mama memutar badan dan kembali menyapu.” Mungkin, para dewa masih belum mengizinkannya.” Aku bengong, tak mengerti.

“Kamu harus lebih banyak berdoa pada para dewa, Mei Cen. Supaya dewa-dewa senang dan menyembuhkan tangan dan kakimu. Kalau kamu rajin sembahyang dan tidak nakal, pasti dewa akan cepat menyembuhkan,” jawaban Mama terdengar meyakinkan.

“Betul begitu? Mama tidak bohong?” Mama menggeleng, lalu memaksaku merebahkan diri. “Sekarang, kamu tidur lagi. Ayo!” perintahnya.

“Kenapa kita tidak sembahyang sekarang saja, Ma? Lebih cepat kita sembahyang, lebih cepat dewa menyembuhkanku kan?”

“Nanti siang saja. Mama masih mengantuk,” katanya. Mama menguap lebar-lebar lalu menggulingkan badan di sisiku.

Jarum jam berdetak mengiringi gerakan bola mataku yang tak bisa dipejamkan lagi. Di dalam hati aku memendam begitu banyak pertanyaan. Kenapa dewa memberiku penyakit ini? Kenapa orang lain tidak? Penyakit apa ini? Ketika jarum jam menunjukkan angka delapan pagi, aku menarik-narik selimut Mama.” Sudah siang, Ma! Ayo, kita sembahyang!”

Walau agak susah dibangunkan, sambil terkantuk-kantuk Mama mau juga membopongku ke ruang tengah. Di sana ada altar kecil dipenuhi dupa dan lilin merah yang setiap hari menyala. Dupa dan lilin-lilin itu mengapit beberapa botol kecil berisi abu leluhur keluarga. Aku mengambil tiga batang hio dan menyalakannya, lalu membungkukkan badan dalam-dalam, tanda hormat kepada dewa dan arwah leluhur.

“Para dewa dan arwah leluhur, sembuhkanlah aku agar aku bisa berjalan,”
teriakku, lantang. Sepanjang hari, di sela-sela kegiatanku berlatih berjalan, aku berdoa dengan suara keras, takut dewa tidak mendengar suaraku. Aku menaruh beberapa piring berisi apel dan jeruk sebagai sesajen.

Lepas beberapa hari, aku mulai gelisah. Akhirnya, kuputuskan untuk tidak meninggalkan altar barang sekejap pun. Seisi rumah menertawakan dan mengolok-olok. Tapi, aku tidak peduli. Aku ingin tidur di depan altar saja supaya bisa berdoa kapan pun aku mau. Mulanya, Mama marah, tapi belakangan dia diam saja.

Aku sungguh-sungguh berdoa. Tak jarang aku menangis karena begitu ingin bisa menggerakkan kakiku. Aku tidak mengerti apa penyebab sakitku ini, tapi aku mengharapkan kemurahan para dewa dan arwah leluhur agar mau mengasihaniku.

Hampir setahun aku terus membungkukkan badan di depan altar dan berteriak-teriak sampai suaraku serak. Tapi,mimpiku belum terwujud. Aku mulai jemu. Sepertinya,dewa tidak memperhatikan kerasnya usahaku. Mungkin,dewa terlalu sibuk mengurusi hal penting dan tidak mau mengurusi permohonan anak kecil.

Di umurku yang ketujuh, aku makin rendah diri mendengar ejekan orang sekampung. Kata-kata seperti “Itu Si Pincang!” atau “Hei, Ayam Buntung lewat!” atau “Kasihan, cantik-cantik, kok cacat!”, memerahkan telinga dan juga menghancurkan hatiku. Mama tidak ambil pusing dengan keluhanku. “Ah, mereka itu nakal, suka iseng. Biarkan saja, nanti akan diam sendiri” katanya, pendek.
Komentar Tante Lin lebih baik.” Kamu tidak pincang, tidak buntung. Kamu bisa berjalan sedikit kan? Bilang saja, kakimu sekarang memang sakit, tapi akan segera sembuh.”

Tak tahan terus diganggu rasa penasaran, suatu hari aku nekat membuka sepatu kain dan sarung yang menyelubungi tangan dan kakiku. Dalam kamar terkunci, susah payah aku menggunakan gigi untuk menarik tali kecil yang membelit gulungan kain di tangan. Apa yang kulihat sangat membuatku terpukul dan nyaris histeris.

Tangan yang sejak dulu terlihat begitu aneh, tetap pada bentuknya. Tak ada perubahan. Tak ada pertumbuhan tangan yang indah seperti penari, seperti yang Mama janjikan. Masing-masing tangan harus puas hanya punya tiga jari. Jumlah kuku pun tak lengkap.

Aku membuka ikatan yang membelit kaki sepanjang betis. Pemandangan sangat
tidak sedap pun kembali menerpaku. Kakiku memang ada dua, tapi tidak sempurna. Bentuknya ganjil. Kanan dan kiri tidak sama. Kakiku tidak bertelapak dan berjari. Yang disebut telapak pada kaki kiriku adalah segumpal daging tanpa kuku, tak berbentuk. Kaki kananku masih lebih baik.Telapak kaki masih sedikit berbentuk, walau tak panjang. Tapi, hanya berjari tiga dan berkuku dua. Sayangnya, kaki kanan yang agak lumayan itu melesak bengkok ke arah dalam.

Aku menangis meraung-raung. Apa gunanya punya tangan, kalau tak bisa dipakai? Apa gunanya punya kaki, kalau tak bisa berjalan? Kini aku sadar mengapa semua orang menghinaku. Mereka semua benar! Aku seperti ayam buntung pincang berwajah manusia. Aku cacat! Cacat!

Seharian aku mengunci diri di kamar. Tak mau makan dan minum. Hanya bergolek, terisak di tempat tidur. Tak kupedulikan teriakan Mama dan Tante Lin yang menggedor pintu seperti orang kesetanan, berteriak memanggil namaku. Lewat pukul tujuh malam, aku merangkak lemas menggapai pintu dan meraih kunci. Bukan karena lapar atau haus. Aku ingin bertanya pada Mama, kenapa selama ini ia berbohong.

Begitu aku membuka pintu, tangan Mama yang besar langsung merenggut rambutku dan membenturkan ke dinding berulang-ulang. Masih belum cukup, aku dihadiahinya tamparan di pipi kiri dan kanan.

“Anak sialan! Untuk apa mengunci pintu seharian? Coba bilang, ngapain kamu di dalam? Ngapain?” teriak Mama.
Air mataku meleleh lagi. Tapi, aku tak bisa melawan. Tante Lin mencoba memapahku bangun. Kakak-kakakku hanya menonton. Sedikit pun mereka tak tergerak untuk mengulurkan tangan. Wajahku yang memar berpaling memandangi mereka. Kenapa mereka tidak mencegah ketika Mama
menghajarku?

Kenapa mereka tidak menghiburku, memeluk, dan melindungiku? Aku adalah adik mereka. Atau, mereka menganggapku makhluk aneh yang tidak pantas jadi manusia?
Dengan mata nanar kutatap wajah Mama. Perlahan aku menyorongkan kedua belah tanganku ke hadapannya.

“Kenapa Mama bohongi Mei Cen lagi? ” desahku. Mama dan Tante Lin langsung terkesiap, sadar bahwa tangan dan kakiku tidak lagi terbalut ikatan kain. Rona kaget mereka tak bisa ditutupi. Mereka menoleh ke belakang.
“Siapa yang buka? A Ling? Atau, kamu, Heng?” tanya Mama.
Satu per satu mereka menggeleng, lalu beranjak pergi. Mama menatap lama ke dalam mataku. Kupikir ia akan menghajarku lagi. Tapi, ia bangkit menuju ruang dalam dan kembali dengan sepiring nasi di tangan.
“Makanlah dulu. Kamu pasti lapar. Sesudah makan, langsung tidur,” katanya acuh tak acuh.
“Tangan dan kaki Mei Cen kenapa, Ma? Kenapa bentuknya seperti ini?”

“Tidak sekarang, ” Mama bergegas menjauh, diikuti Tante Lin yang sempat mencium pipiku. Aku termangu memandangi nasi di depanku, tanpa berniat menyentuhnya. Kejadian hari ini terlalu pedih, membunuh selera makanku.

Hari-hari berikutnya Mama bersikap seolah tak ada apa-apa. Tante Lin juga berusaha menghindari pertanyaanku, tapi tetap melayaniku. Bagaimana mungkin Mama begini, setelah kemarin menyiksaku sampai babak belur? Tidakkah Mama tahu bahwa peristiwa itu terekam dalam jiwaku, menimbulkan luka emosi yang mengobarkan kebencianku?

Suatu siang, ketika aku sedang duduk melamun di depan rumah, seorang anak tetangga lewat dan mulai cari gara-gara. Setelah beradu mulut yang diakhiri kontak fisik, aku masuk ke rumah. Melihat lengan bajuku terkoyak dan pipi merah, alis Mama terangkat. Situasi langsung diambil alih Tante Lin.

“Kenapa? Kok, seperti habis dipukuli? ” tanya Tante Lin, bergegas memeriksa lukaku. Aku menggigit bibir, menahan tangis.
“Memang dipukuli,” jawabku, pelan.
“Siapa yang memukuli?”
“Wanto. Ia mengatai aku ayam buntung. Aku tidak mau dikatai seperti itu.
Wanto marah, tidak terima. Tahu-tahu, dia langsung memukul aku. “Aku menghambur ke arah Mama. “Kenapa tangan dan kaki Mei Cen begini, Mama?” isakku, lirih. “Ini sudah takdir, Mei Cen. Sabarlah. Jangan dengarkan omongan
tetangga. Mereka juga akan diam sendiri.”
“Ceritakan apa yang terjadi padaku, Ma..”
“Sudah, jangan diingat-ingat lagi. Kita ke dokter saja, ya?” Mama masih berusaha mengelak. Aku menggeleng berulang-ulang. ” Tidak, Mama harus cerita. Cerita yang sebenarnya. ”

Beberapa menit kami berpandangan. Perlahan, Mama mau juga bercerita. Sambil mengibaskan kemoceng di sela-sela kursi, ia bertutur dengan
suara yang hampir tak terdengar.

“Dulu, sewaktu kamu masih ada di perut Mama, pagi-pagi Mama pergi ke pasar membeli ayam. Menurut orang Tionghoa, kalau sedang mengandung pantang memotong ayam, apalagi kakinya. Kata orang tua zaman dulu, bayi yang dikandung bisa cacat. Hari itu Mama lupa pada pantangan. Ketika kamu lahir cacat, Mama menyesal karena melanggar pantangan itu.”

“Aku cacat cuma karena Mama memotong ayam sewaktu hamil? ” jeritku tak percaya.

“Percaya atau tidak, itulah yang terjadi. ”
“Apakah tak ada yang bisa mengobati cacatku? ”
“Dokter di kota bilang, kamu harus dioperasi. Badanmu disayat, dipotong-potong. Biayanya mahal sekali. Kita tidak punya cukup uang untuk itu, Mei Cen. Kalaupun bisa, rumah ini harus dijual. Lalu, kita harus tinggal di mana? Karena tidak punya uang dan tidak tega melihatmu dioperasi, Mama membungkus kaki dan tanganmu supaya tidak ada yang tahu keadaanmu.”

“Itu sebabnya aku tidak boleh main dan bersekolah seperti anak lain?
Karena Mama malu? ”
“Mama takut kamu dihina. ”

Dihina. Ucapan itulah yang melecut semangatku. Kupaksa Mama mendaftarkanku ke sekolah. Miskin dan cacat adalah dua hal yang tak bisa kuubah, tapi aku tak mau menambah satu lagi kekuranganku: menjadi bodoh.
Tergerak oleh tekadku, Mama membeli sepasang sepatu besi khusus untuk penyandang cacat. Jika memakainya, kakiku terasa berat sekali. Tapi,
aku harus mencobanya. Siapa tahu, telapak kakiku perlahan-lahan bisa
normal.

Di sekolah aku makin sering menangis. Tak ada seorang teman pun yang mau bergaul denganku. Aku sering kesulitan menulis cepat karena jari jari tanganku tak sebanyak orang lain. Biarpun sudah berlatih keras, hasilnya tetap mengecewakan. Bila tiba jam olahraga, aku hanya gigit jari dan tinggal di kelas, sementara teman lain berlarian bermain bola kasti.

Untunglah, keterbatasan fisik tidak memengaruhi kemampuan berpikirku. Walau aku terlambat bersekolah, tidak berarti aku lambat dalam menangkap pelajaran. Perlahan tapi pasti, aku mulai menerima keadaanku.
Tidak masalah, aku yakin bisa mengatasinya. Nilai raporku selalu jauh di atas rata-rata. Di akhir tahun pelajaran aku tersenyum bangga karena prestasiku melebihi orang yang tak cacat. Sayang, Mama kurang terkesan dengan keberhasilanku itu. Ia hanya mengangguk, tanpa memberikan pujian sedikit pun. Ah … begitu sulitnya aku merebut hati Mama.

Menginjak remaja, kegiatanku di rumah tak banyak berubah. Tak mungkin aku membantu Mama memotong dan mencabuti bulu ayam. Kupilih membantu Tante Lin membuat kue. Mula-mula, hanya mengocok telur, menuang terigu, dan mengaduk adonan. Lama-kelamaan aku bisa mencetak aneka bentuk kue kering. Iseng-iseng, aku menjualnya kepada teman-teman di sekolah. Hasilnya kutabung sedikit demi sedikit.

Sayang, hubunganku dengan Mama tak banyak berubah. Kami masih tidur pada satu ranjang. Tapi, rasanya ia begitu jauh. Seperti ada tembok tebal yang menghalangi terciptanya kasih di antara kami. Aku sering menatap wajahnya yang terlelap di sampingku. Ingin berbicara, selayaknya ibu dan anak. Ingin mencurahkan seluruh isi hatiku. Tapi, entah kenapa, aku tak bisa.

Hubunganku dengan semua kakak pun kurang harmonis. Sejak kecil aku terbiasa dijadikan kambing hitam. Keadaan rumah berantakan, aku yang kena marah. Dagangan Mama tidak habis terjual, aku dapat omelan. Uang kakak hilang, aku dituding sebagai pelaknya. Pokoknya, tiada hari tanpa daftar kesalahanku.

Di rumah kuno sebesar ini, aku merasa begitu kecil. Begitu tak bernilai. Terlebih setelah Oma meninggal. Rasa kehilangan makin menerpa. Saat Oma masih hidup, aku terbiasa menungguinya di ranjang, menyuapi, dan membersihkan badannya. Hanya Oma satu-satunya orang yang memerlukan kehadiranku. Sedikit banyak itu membuatku merasa berarti. Namun, arti yang sedikit itu pun terampas tatkala Oma tiada. Aku kembali menjadi katak dalam tempurung, sepi terasing dalam kesendirian.

Oktober 1986

Jarum jam mendekati angka 5. Tergesa-gesa kuoleskan lipstik warna pink, merapikan gaun, lalu memakai sepatu. Aku berdandan agak istimewa untuk menghadiri ulang tahun Dewi, teman sebangku.

Ketika bercermin, aku bersyukur karena wajahku bisa dikatakan cantik. Gaun merah muda yang kupakai sangat cantik. Milik Mei Lan, kakak termudaku, yang terpaksa merelakannya. Aku masih ingat sorot mata dan komentarnya yang merendahkan, “Memangnya, temanmu yang ulang tahun cacat juga, sampai merasa perlu mengundang kamu? Jangan-jangan, kamu yang memaksa minta diundang?”

Aku hanya bisa menelan ludah. Tebakan Mei Lan kurang lebih benar. Dewi hanya menyampaikan berita lisan kepadaku, bukan kartu undangan. Aku tahu, itu cuma basa-basi, karena selama ini aku membantunya menghasilkan nilai 7 dalam setiap pelajarannya.

Tetapi, masa bodoh. Diundang atau tidak, aku tetap pergi. Apalagi, aku sudah menyiapkan sepatu putih dengan taburan mutiara imitasi di sekelilingnya. Aku rela membobol tabunganku demi sepatu cantik ini. Sepatu yang kuharapkan bisa menimbulkan kesan berbeda bagi kedua kakiku. Untuk malam ini, selamat tinggal sepatu besi!

Karena rumah Dewi agak jauh, kami harus berkumpul di sekolah dan kemudian akan berangkat bersama. Aku berjalan kaki secepat mungkin. Tak kuhiraukan gerimis kecil yang mulai turun. sampai di sekolah tak satu teman pun terlihat. Setengah menangis aku melihat jam di pergelangan tangan. Ya, ampun! Lewat 7 menit dari waktu yang ditentukan! Mereka bilang akan menunggu dengan batas toleransi 15 menit. Bagaimana mungkin mereka tega berbuat begini?

Malam itu aku terseok-seok pulang. Sakit hati dan sangat kecewa. Sambil terisak, aku memukuli kedua kakiku. Kenapa aku tidak bisa berjalan lebih cepat? Semua gara-gara kaki sialan ini, kaki brengsek! Kaki cacat yang tidak berguna!

Bukan cuma karena itu aku marah. Untuk ulang tahun Dewi, aku sengaja berdandan seteliti mungkin karena di situ ada Wisnu, sepupu Dewi. Aku ingin terlihat istimewa di depannya. Kaki sialan ini sudah merusak acaraku!

Sampai di rumah, tampak Mama dan Tante Lin sedang duduk mengobrol di meja makan, ditemani beberapa stoples kue kenari buatanku. Melihatku basah kuyup, Mama hanya menoleh sekilas.
“Tidak jadi pergi?”
“Ketinggalan mobil,” ujarku, tersendat.
“Oh”, hanya itu komentarnya. Sungguh, dadaku sakit sekali. Tak bisakah Mama bersikap lebih peduli pada perasaanku, lebih menghargai? Sedikit saja? Agaknya, ia lebih tertarik mengunyah kue kenari. Tak bisakah ia bertanya dengan sikap lebih keibuan?

Kuhabiskan sepanjang malam dengan simbahan air mata. Tangan dan kaki yang buruk rupa adalah sumber bencana dalam hidupku. Tak pernah aku bahagia. Di rumah diperlakukan seperti orang lain, di sekolah seperti makhluk asing. Lengkap sudah penderitaanku!

Aku ingin merasakan kerlap-kerlip suasana pesta, bergembira, dan bernyanyi. Aku ingin bertemu pria pujaan. Siapa tahu, ada yang tertarik mengajakku berdansa. Aku ingin merasakan manisnya jadi gadis remaja. Salahkah keinginan itu?

Sejak peristiwa Sabtu malam itu, aku jadi makin sensitif. Aku makin menarik diri dari lingkungan mana pun. Melihat sikapku yang aneh, Mama marah. Mama menghabiskan waktu dengan menyumpahi dan mencercaku, kegiatan yang mungkin dirasanya lebih bermanfaat ketimbang memeluk atau menanyakan keadaanku.

Dalam keadaan tertekan, aku tenggelam dalam kesibukanku sendiri. Pergi sekolah sebelum orang lain bangun. Siang hari aku berdiam di ruang praktikum atau di perpustakaan, membaca. Di sore hari kuhabiskan waktu berjam-jam untuk membuat kue, disambung dengan belajar sampai larut malam. Aku ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, tapi Mama punya pandangan sendiri.

“Buat apa, Mei Cen? Tidak ada gunanya. Buang-buang uang saja! Lebih baik uangnya ditabung, untuk biaya usaha atau kawin.”
“Tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lulusan SMU, Ma. Paling-paling jadi pegawai toko atau pekerja pabrik. Gajinya kecil. Kalau Mei Cen kuliah, kesempatan kerja pasti akan lebih luas”, bantahku.
“Sok tahu kamu! Memangnya, kalau tidak kuliah tidak bisa hidup? Semua kakakmu tidak ada yang kuliah. Tapi, buktinya mereka bisa hidup. ”
“Iya, hidup, sih, hidup. Tapi, tidak ada kemajuan sama sekali. A Heng berdagang ayam di pasar, dari dulu sampai sekarang. Mei Lan jadi kasir di toko Ko Bun Liong dan Mei Ling jadi pelayan di rumah makan. Sekarang Mama suruh Mei Cen berjualan kue sampai tua?,” suaraku meninggi.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menghina mereka? Mereka sudah menyumbang untuk biaya kamu sekolah, tahu! Jangan mimpi! Kuliah Cuma untuk orang kaya! Kamu mau bayar kuliah pakai apa? Mama sudah tidak punya uang lagi!” suara Mama tidak kalah menggelegar.

Sulit. Jika sudah bicara soal uang, aku mati kutu. Biaya kuliah tidak murah. Aku juga harus merantau ke kota besar. Butuh biaya perjalanan, kontrak rumah, plus biaya hidup. Runyam. Sungguh runyam. Lebih runyam lagi kalau aku harus membuat kue sampai bongkok. Aku tidak boleh menyerah! Pasti akan ada jalan keluar. Sabar saja!

Mei 1987

Ketika ujian akhir dan ujian saringan masuk perguruan tinggi sudah dekat, aku memaksimalkan seluruh waktu yang tersiksa untuk berlatih soal-soal. Di kamar bekas Oma, yang akhirnya menjadi kamar pribadiku, aku tergeletak letih, setelah menggarap setengah buku latihan fisika. Sudah pukul satu dini hari. Mataku penat luar biasa. Terdorong isi kandung kemih yang penuh karena dua cangkir kopi, aku melangkah ke kamar kecil. Sejenak langkahku terhenti, berganti menjadi rasa ingin tahu, ketika sayup-sayup kudengar suara percakapan dari kamar Tante Lin.

“Kau tidak perhatikan bahwa dia makin tertutup dan makin menjauh dari kita sejak peristiwa itu?”
“Ah.. itu karena dia terlalu cengeng. Dia harus belajar menghadapi kerasnya hidup, harus belajar menerima kegagalan.”
“Jangan terlalu keras padanya, Giok. Bukan salah Mei Cen dia lahir cacat, ‘kan? Dia pasti sangat menderita karena keadaannya. Mestinya, kau bisa bersikap lebih baik, karena dia menderita akibat kesalahanmu dulu. Kalau saja kau tidak gegabah minum segala macam ramuan obat dari sinse itu, pasti tidak akan begini kejadiannya!”

“Aku tidak pernah tahu bakal begini kejadiannya! Sinse Wang paling terkenal di daerah ini, obat-obatnya selalu manjur. Tidak ada yang pernah menyangka anak itu lahir cacat, Lin! Sudahlah, jangan diingat-ingat lagi. Pedih rasanya. Setiap kali mengingatnya, aku teringat pada pria gila itu. Aku melakukannya karena terpaksa. Kau tahu, kan? Aku terpaksa, aku takut, aku tidak punya pilihan lain.”

Cepat-cepat kubekap mulutku sendiri, sebelum jeritannya keluar. Lututku lemas dan saling beradu, hampir tak kuat menyangga tubuh. Astaga, jadi ini rahasia besar yang selama ini sengaja disembunyikan mereka berdua? Mama berniat menggugurkan kandungan. Itu berarti, dia ingin membunuhku, melenyapkanku? Anaknya sendiri? Bagaimana mungkin dia tega berbuat begitu?

Sampai kokok ayam terdengar nyaring di pagi hari, aku masih tergolek dengan mata sembap. Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata. Benakku dipenuhi banyak pertanyaan, ketidakpuasan, ketidakpahaman. Cintakah Mama padaku? Mengapa ia bisa setega itu? Mengapa tidak langsung dibunuhnya aku ketika lahir dulu? Bukankah ia terbebas dari masalah? Tapi, masalah apa yang membuat Mama bisa mengambil tindakan senekat itu? Apa hubungannya dengan seorang pria yang disebutnya kemarin?

Keadaan rumah kebetulan sedang sepi ketika kutemui Mama di dapur pagi itu. Sambil mengiris sayuran, sesekali ia mengaduk se-panci besar bubur di atas kompor. Aku berdiri mematung, tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia melihat padaku sekilas, tapi Mama tetap asyik dengan kegiatannya, tak terusik oleh kehadiranku.

“Kenapa selama ini Mama berbohong padaku? ”
“Bohong apa? ”
“Mama berbohong tentang cacatku! Mama pernah bilang, tangan dan kakiku tak berkembang karena aku anak perempuan yang pertumbuhannya tak sepesat anak laki-laki. Lalu, Mama berganti cerita bahwa aku cacat karena waktu hamil dulu Mama melanggar pantangan memotong kaki ayam. Tapi, kenyataannya, cacat ini terjadi karena disengaja. Betul begitu, kan?”
“Hei, kamu ngomong apa, sih? Pagi-pagi sudah meracau!”
“Sekarang, Mama mau mengarang cerita baru lagi? Sudahlah, terus terang saja! Mama pernah ingin menggugurkanku, bukan? ”

Saat itulah Mama berbalik menghadapku. Kedua tangannya berkacak pinggang, lalu menudingku lurus-lurus. “Hei, jangan asal kalau ngomong! Siapa yang bilang begitu?”

“Tak perlu berkelit lagi, Ma. Mei Cen sudah dengar semua percakapan
Mama dan Tante Lin tadi malam. Sebenarnya, obat apa yang Mama makan sampai aku lahir begini? Obat yang sengaja Mama pesan pada Sinse Wang supaya janin di perut Mama tidak berkembang lagi? Obat yang sengaja Mama beli, Mama minum setiap hari, supaya janin itu mati seketika? Tapi, sayangnya, janin itu tidak mati, bukan? Janin itu membesar, tidak mempan oleh obat. Janin
itu tetap hidup, dengan segala kekurangan. Mei Cen ingin tahu, bagaimana perasaan Mama sewaktu melihat bayi cacat itu untuk pertama kalinya?”. Mukaku memerah ketika mulai mengucapkan dakwaan.

Dengan raut wajah tegang Mama terpaku. Sesaat kupikir dia akan menamparku, seperti kebiasaannya kalau sedang marah. Dalam tempo singkat, Mama berhasil menguasai kekagetannya dan berucap dengan nadanya yang khas, datar tanpa emosi.

“Kau tidak akan bisa mengerti.”
“Apa yang tidak aku mengerti? Bahwa Mama tidak menghendaki aku lahir? Bahwa Mama sengaja ingin membunuhku?”

“Kamu tidak bisa mengerti! Mama sebenarnya sayang padamu.”
“Sayang? Coba katakan sekali lagi. Sayangkah namanya jika menggugurkan anak sendiri? Sayangkah namanya jika membohongiku selama ini? Sayangkah namanya jika selama ini Mama bersikap tidak adil padaku? Aku mohon, jangan bohong lagi. Aku cuma ingin tahu, kenapa? Apa salahku? Apa salahku sampai Mama ingin membunuhku?”, aku *****ik.

“Salahmu adalah karena kau lahir bukan di saat yang tepat!” bentak Mama menggelegar, sambil memukul meja. “Papamu yang gila perempuan itu pergi begitu saja meninggalkan rumah ini, kawin lagi di kota lain. Dua bulan kemudian, Mama baru sadar bahwa Mama hamil. Dalam keadaan bingung, datanglah kabar bahwa papamu meninggal karena kecelakaan. Mama makin bingung dan panik, karena ternyata ia tidak meninggalkan warisan apa-apa, selain rumah tua ini. Masih belum cukup, rupanya papamu sering main judi dan utangnya bertumpuk di mana-mana. Kalau kamu jadi Mama, apa yang akan kamu lakukan? Seorang janda dengan enam anak, ditambah satu calon anak di kandungan, tanpa penghasilan sama sekali. Mama tidak punya pilihan lain, Mei Cen. Kalau kamu dibiarkan lahir, kamu hanya akan menderita dalam kemiskinan.”

“Mama mengorbankanku?” Aku tercekat dengan pahit.
“Mama bingung, tidak tahu harus bagaimana lagi. Uang tidak punya, sementara semua orang di rumah ini perlu makan, belum lagi memikirkan soal utang. Mama tidak sanggup menambah beban lagi dengan mengurusi bayi.” Begitu tenangnya Mama bicara. Aku ternganga, nyaris tak percaya. Air bening dari pelupuk mataku berjatuhan satu-satu.

“Aaa … apakah Mama sedih melihat keadaanku waktu itu?”
Sejenak Mama diam, lalu katanya, “Ya, Mama sedih. Tapi, jangan dibicarakan lagi. Lupakan saja. Yang lalu biar saja berlalu.”

Hah, enak saja Mama bilang begitu! Apa dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu mengakibatkan tangan dan kakiku cacat? Hati dan jiwaku juga tergoncang? Apa dia lupa, gara-gara perbuatannya itu, sepanjang hidupku aku harus dijejali oleh segala macam hinaan dan olok-olok?

Dengan lunglai dan tertunduk, aku kembali ke kamar, membenamkan diri sepanjang hari di sana. Tanpa perlu diberi tahu pun, aku sudah paham bahwa pembicaraan ini sudah usai. Jelas sekali bahwa Mama tidak mau mengakui kesalahannya, malah memasang tameng pembelaan diri dengan rupa-rupa alasan yang mengatasnamakan ‘kemanusiaan’. Sungguh indah!

Baru aku sadar, dari dulu seolah ada tembok penghalang antara aku dan Mama. Ternyata, Mama menolak kehadiranku. Bagaimana mungkin ia bisa mencintaiku dengan sepenuh hati, bila ia tak pernah mengharapkan kelahiranku? Ini pukulan terhebat yang pernah kualami. Rasa kecewa karena tidak dicintai oleh teman dan saudara kandung masih bisa kuatasi. Tapi, tidak dicintai oleh ibu sendiri? Tidak, aku tidak sanggup menanggungnya!

Setelah konfrontasi yang mengejutkan itu berlalu,hubunganku dengan Mama makin berantakan. Setiap kali berpapasan, aku membuang muka. Makanan yang disediakannya pun tak pernah kusentuh lagi. Sebisa mungkin, aku menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah. Tapi, apa daya, konsentrasiku pecah.

Pekerjaan rutinku kini hanyalah bergelung memeluk bantal dan menangisi nasib. Sejak kecil aku senantiasa diolok, diperlakukan seperti makhluk aneh, dijauhi seolah aku adalah penderita penyakit yang menyebarkan virus mematikan. Tak punya teman, tak punya kekasih. Aku tak perlu mengalami semua ini, kalau Mama tidak mencoba menggugurkan kandungannya dulu. Itu sebuah upaya pembunuhan. Itu suatu kesalahan, bukan?

Berbagai pikiran buruk berebut datang menghampiri. Masa depan, apakah engkau masih menyisakan sedikit tempat bagiku? Kalaupun ada, yang seperti apa? Menjadi penghuni panti cacat seumur hidup, sendirian dan kesepian? Atau.. menadahkan tangan, menjadi pengemis di pinggir jalan? Apakah kelak ada pria yang mau menikahiku? Di manakah kesembuhan? Di manakah keadilan? Aku tak punya keberanian untuk menggapai impian. Aku sangat takut, benar-benar takut!

Juni 1987
Ujian akhir sekolah kulalui dengan pikiran kacau-balau. Aku menjawab soal-soal sekenanya. Aku tak bernafsu untuk menjadi peringkat pertama. Bisa lulus saja sudah bagus. Aku bukan saja kehilangan cita-cita, tapi juga semangat dan daya juang.

Mengetahui kecacatanku akibat ulah ibu kandung sendiri, aku jadi uring-uringan. Tiada hari tanpa muka masam dan keributan. Untuk hal-hal sepele, misalnya tidak menyikat lantai kamar mandi atau lupa mencuci piring kotor saja, kami bisa bertengkar hebat. Sejujurnya, aku tak kuat lagi dan ingin angkat kaki dari sini.

“Kenapa sekarang sikapmu jadi berubah, Mei Cen? Dulu kamu tidak kurang ajar begini,” tegur Tante Lin suatu kali.
“Orang tua itu harus dihormati, bukan diajak berkelahi Kasihan mamamu. Ia kan seharian bekerja keras”, lanjutnya lagi.
“Aku bisa menghormati orang tua. Tapi, kalau orang tua itu pernah punya niat ingin membunuhku, maaf saja! Aku tidak bisa,” dengusku, sambil memecahkan telur satu per satu ke dalam adonan.

“Peristiwa itu sudah lama berlalu. Jangan diingat-ingat terus.”
“Enak saja Tante bicara begitu! Ini masalah hak hidup seorang anak yang dirampas ibunya sendiri, masalah anak yang terlahir cacat karena kesalahan ibunya. Apakah sang ibu mengakui kesalahannya? Tidak. Apakah sang ibu menyesali perbuatannya? Tidak. Apakah sang ibu pernah meminta maaf kepada anaknya? Juga tidak. Lalu, kenapa Tante memaksaku menghormati orang tua yang demikian? Hanya karena dia sudah memberiku makan setiap hari?”Aku nyaris membanting baskom berisi adonan.

“Mamamu sudah meregang nyawa waktu melahirkanmu karena umurnya yang sudah tidak muda. Dia mengalami perdarahan hebat dan harus dibawa ke rumah sakit. Untuk membayar biaya kelahiranmu, dia harus menjual perhiasannya. Paling tidak, hormatilah pengorbanannya itu!” Tante Lin mencoba menasihati.

“Oh.. jadi sekarang dia menuntut penghormatan?”
“Bukan begitu, tapi..”
“Ah, aku jadi ingat satu hal. Tante Lin dan Oma pasti tahu ketika Mama berniat untuk menggugurkan kandungan,” cetusku tiba-tib. Tante Lin menatapku lemah, tapi tidak menjawab.
“Kenapa Tante dan Oma tidak mencegahnya? Atau, malah justru membantu dengan senang hati?”, tanyaku, sinis.
“Mei Cen, kau tahu sendiri sifat mamamu. Sekali punya keinginan, tidak ada orang lain yang bisa melawannya. Sifatnya keras sekali. Kami tak bisa berbuat apa-apa,” kata Tante Lin, berdalih.

“Ceritakan Tante, seberapa keras keinginan Mama untuk melenyapkan aku?
“Aku segera duduk di depannya. Tante Lin terperangah, menyadari kata-katanya yang salah, lalu meralatnya.
“Jangan begitu, Tante. Ceritakan saja yang sebenarnya.
Jangan khawatir, aku tak akan mati terkejut,” desakku lagi. “Coba ceritakan, apa lagi yang dilakukannya? ”

Tante Lin terus menggelengkan kepala. Tapi, ketika matanya bertabrakan dengan mataku, ia akhirnya menyerah. ” Dia.. dia.. Pernah membanting-banting tubuhnya sendiri di lantai, memukuli perutnya dengan kayu..”, ujar Tante Lin terbata-bata.

“Apa lagi? ” bisikku, mencoba menguatkan hati. “Ketika kandungannya berumur tiga bulan dan belum gugur juga, dia nekat pergi ke dukun. Segala macam alat digunakan untuk mengeluarkan tubuhmu, sampai.. dukun itu berdiri di perut mamamu, lalu menginjak injaknya..” kata Tante Lin.

“Sungguh mati, Mei Cen. Kami tak pernah menyangka kau akan terlahir cacat dan menanggung malu seumur hidup..”
“Apakah … Mama menyesal ketika melihat keadaanku? ”
“Ya, dia kaget setengah mati. Dia bingung harus bagaimana. Dia sempat menawarkan kepada orang lain untuk memeliharamu. Tapi, mereka tidak mau menerima bayi cacat. Mamamu juga enggan merawat sendiri karena tidak siap menerima kehadiranmu. Tapi, belakangan ia mulai menyesal dan berniat untuk membesarkanmu.” Dengan ujung baju Tante Lin menyeka air matanya. Diwajahnya terbayang gurat-gurat keletihan dan sesal.

“Jangan salahkan mamamu, Mei Cen. Kalau papamu tidak pergi meninggalkannya, ini tidak akan terjadi. Ia mengambil tindakan itu karena tidak bisa menerima pengkhianatan papamu. ”

Aku termangu, mengulang, dan mengulang kembali setiap kata yang barusan kudengar. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, aku beranjak pergi dan menyendiri di kamar. Membayangkan detail kisah itu tidak saja membuat jiwaku tersiksa, tapi aku juga merasa tak berharga sama sekali. Kini aku tahu, kenapa Mama sulit menerima kehadiranku sebagai anak. Penghalang utamanya adalah kebenciannya yang begitu dalam pada Papa. Itulah yang ditumpahkannya padaku. Kenapa aku yang dijadikan alat pelampiasan sakit hatinya?

Aku anak tak berguna. Aku anak yang tak berharga. Tak ada nilainya. Tak ada artinya. Selama beberapa hari, hanya kalimat-kalimat itu yang melekat kuat di otakku. Tingkahku makin seperti orang linglung, tak punya sinar kehidupan. Tiba-tiba, jalan keluar mulai terlihat, menggoda hatiku untuk melakukannya. Lama-kelamaan, pikiran itu makin mendekati kenyataan ketika kemudian aku menemukan semprotan obat nyamuk dipojok kamar.

Faktanya, Mama tak pernah menginginkan aku hidup. Baik, aku akan membantunya sesegera mungkin mewujudkan keinginan itu. Kalau aku sudah tak ada, kebencian Mama pada Papa mungkin bisa lenyap. Tanggungan hidup Mama juga akan berkurang satu karena dia tak perlu repot-repot lagi memikirkan biaya hidupku. Kalau aku mati, aku juga tak perlu lagi berkubang dalam pusaran dendam pada ibu kandungku sendiri. Aku mencintainya, aku tak ingin membencinya..

Dengan tenang, aku membuka botolnya dan menuangkan cairan berbau itu ke dalam kerongkonganku. Rasa panas yang membakar membuatku limbung. Aku berusaha menarik apa saja yang bisa kuraih. Beberapa benda beterbangan jatuh. Suaranya berisik. Pandangan mataku mengabur, lama-kelamaan kian gelap. Sebelum badanku terempas,sempat kuingat ada tangan yang merogoh mulutku,sementara tangan yang lain menekan tengkukku dengan kuatnya. Berbarengan dengan itu, rasa mual yang amat sangat mendorong seluruh isi perutku keluar. Aku terkapar.

Beberapa saat lamanya kesadaran menghilang dari benakku. Ketika membuka mata, aku mendapati diriku tengah terbaring ditutupi selimut sampai leher. Setelah pandangan berkunang-kunang yang mengganggu itu hilang, aku menyeret kaki dan memaksanya keluar dari kamar. Jam kuno di dekat televisi berdentang,menandakan sudah pukul satu dini hari.

“Kenapa aku tak dibiarkan mati saja tadi?” gumamku lirih, dengan tubuh lemas, bersandar di tembok dapur. Mama tampak tak terganggu oleh pertanyaan itu. Buktinya, ia masih meneruskan kegiatannya menjerang air untuk menyeduh kopi.

“Kenapa aku tak dibiarkan mati saja tadi? Biar dendam Mama terbalas. Biar hati Mama puas. Biar hidup Mama tak lagi susah! Itu kan yang Mama inginkan selama ini? Kematianku?” cecarku, sambil bergerak maju menghampiri.

Tiba-tiba Mama membanting cangkir yang sedang dipegangnya ke lantai. Cipratan kopi panas mengenai kakiku yang telanjang.
“Ampun! Soal itu lagi! Itu lagi! Buat apa, sih, diungkit-ungkit terus? Tidak bisakah kita hidup tanpa saling menyalahkan?” Tampak sekali Mama berusaha menekan amarah. Mukanya tegang dan bibirnya gemetar.
“Pasti Mama senang sekali kalau aku mati tadi,” ujarku sinis.

“Jangan kurang ajar, Mei Cen!” “Kenapa, sih, Mama harus malu mengakuinya? Setelah usaha yang Mama dulu lakukan gagal, mestinya Mama berterima kasih karena aku akan mewujudkan keinginan itu. Tidak perlu repot-repot menolongku. Mama tinggal bilang saja, mau pakai cara apa? Terjun dari gedung tinggi, gantung diri, atau potong urat nadi? Dengan senang hati aku akan melakukannya untuk Mama.”

Plak! Plak! Dua tamparan membungkam ocehanku. Mama mengacungkan telunjuknya di depan hidungku.
“Stop! Jangan bicara begitu lagi! Apa, sih, yang ada di kepalamu? Setiap hari kita bertengkar tentang hal yang itu-itu juga! Kenapa Mama begini, kenapa Mama begitu. Berkali-kali dijelaskan tentang situasi yang menjepit waktu itu, kamu masih tidak bisa mengerti juga. Mama tidak punya pilihan lain waktu itu, Mei Cen. Mengertilah sedikit! Pikirmu, cuma kamu yang susah, cuma kamu yang dapat masalah? Kamu tidak pikirkan bagaimana keadaan Mama? Seorang wanita setengah tua, yang ditinggal mati suaminya tanpa warisan? Sendirian bekerja untuk menghidupi seisi rumah dengan penghasilan pas-pasan. Apakah itu beban yang ringan?”

“Mama tidak pernah mau mengakui perbuatan itu sebagai kesalahan. Itu masalahnya!” jeritku, sakit hati.

“Kamu mau menyalahkan Mama karena terlahir cacat? Tidak ada manusia yang bisa menentang kehendak takdir. Coba kalau kamu tetap tinggal di rumah, tidak ada yang menghinamu. Kamu juga menyalahkan Mama karena tidak mampu membiayaimu berobat. Lihat sendiri keadaan kita, Mei Cen. Untuk makan saja kita harus berhemat, belum lagi uang sekolahmu dan biaya yang lain. Sekarang kamu bicara dengan lagak orang paling pintar sedunia! Main tuding. Ini salah, itu salah! Hei, kamu sadar tidak? Semua yang kamu pakai dan makan itu hasil jerih payah Mama. Tapi, kamu sama sekali tidak tahu terima kasih, tidak tahu balas budi! Anak tidak tahu diuntung! Benar-benar anak pembawa sial!”

Darahku langsung menggelegak, menyembur memanasi kepala. Anak pembawa sial. Itulah ungkapan yang paling sering aku terima selama tinggal di rumah ini.
“Mama tidak perlu khawatir soal uang lagi! Mulai sekarang, tanggungan Mama berkurang satu. Aku akan mengganti setiap rupiah yang Mama pakai untuk membiayai hidupku selama ini. Setiap rupiah! Aku bersumpah, tidak akan pernah menginjak rumah ini lagi. Aku tidak akan pernah mengganggu hidup keluarga ini lagi karena aku tidak pernah diharapkan ada di sini! Akan kubuktikan, aku bisa hidup tanpa kalian!” jeritku membabi-buta, menerjang kamar dan langsung mengambil tas di atas lemari.

“Silakan! Silakan kalau kamu mau pergi! Hei, sekali kamu minggat dari rumah ini, selamanya pintu ini tertutup buatmu! Kamu dengar itu? Dasar anak sinting! Sejak di kandungan saja sudah bikin pusing. Sudah besar malah tambah bikin masalah! Anak kurang ajar! Anak durhaka kamu! Makin cepat kamu keluar dari rumah ini, makin baik!” teriak Mama, tak kalah seram, kali ini dengan melempar beberapa piring ke arah pintu kamarku.

Sambil terisak-isak, aku memasukkan beberapa buku pelajaran, ijazah dan surat-surat penting, tiga helai baju yang kubeli dengan uangku sendiri, dan selimut tua milik Oma. Aku harus keluar dari rumah ini. Harus! Tak ada lagi yang bisa menahanku lebih lama di sini. Aku cuma seorang manusia cacat tak berguna. Benalu yang membebani. Kenapa Yang Kuasa tidak mencabut nyawaku saja? Tak ada arti lagi hidupku kini.

Selama beberapa saat, aku kembali menimbang-nimbang keputusanku untuk pergi. Masalahnya, aku tidak punya tujuan. Kenalan tak ada, saudara tak punya. Dengan menimang uang dua ratus ribu rupiah di tangan, aku membulatkan tekad untuk keluar dari rumah ini.

Menjelang matahari terbit, dengan lunglai aku menyampirkan tas di bahu dan beranjak membuka pintu depan. Derit suaranya yang khas membuatku terkesima. Mungkin, ini saat terakhir aku bersentuhan dengan pintu kayu yang besar ini. Tanpa sadar kuusap cat cokelatnya yang sudah terkelupas. Perlahan aku berjalan menjauhi rumah, tempat aku dibesarkan, meninggalkannya setapak demi setapak. Kedua tanganku menggenggam erat secarik kertas bertuliskan sebuah alamat.

Yogyakarta, Juni 1987 – 1993

Mulutnya menganga. Kacamatanya diturunkan, lalu dilepas. Ia menatap, menyelidik. Beberapa detik kemudian, ia membuka gerendel pintu.
“Mei Cen?” tanyanya, tak percaya. Aku mengangguk kuat-kuat sambil menggigil kedinginan. Hujan lebat membuat pakaianku melekat di sekujur kulit. Perutku terus berbunyi, lantaran belum diisi sejak kemarin.

“Pasti ada sesuatu yang sangat serius sehingga kamu menemui Ibu di sini,” katanya heran dan curiga. Ia menggiringku masuk ke rumahnya yang kecil dan menyuruhku membersihkan diri. Ibu Minarni berusaha menahan diri untuk tidak bertanya macam-macam. Ia adalah guru SMA-ku yang paling kusayangi, karena selalu memberiku semangat. Sayangnya, ia harus pindah tugas ke Yogyakarta.

Setelah mandi dan menyantap sepiring nasi goreng teri, aku duduk di depan Ibu Minarni yang menunggu ceritaku. Dengan getir aku mengulang kisah hidupku, sejak lahir hingga detik-detik terakhir pertengkaranku dengan Mama. Kedua mata Ibu Minarni tampak berkaca-kaca.

“Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Bu. Izinkan saya tinggal di sini sampai mendapat pekerjaan. Saya janji, tidak akan membuat Ibu susah. Saya akan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Menyapu, mengepel, cuci baju, semuanya, apa saja, asalkan diizinkan menumpang di sini, Bu. Tidur di lantai WC pun tak apa-apa. Ibu tak perlu memberi saya makan. Ibu boleh memperlakukan saya sebagai pembantu,” tuturku.

Setelah beberapa menit berlalu tanpa ada reaksi apa-apa, aku mendongak. Ibu Minarni berdehem, lalu menggenggam tanganku. “Ibu tahu perasaanmu, Mei Cen. Tapi, melarikan diri bukan jalan keluar yang baik. Keluargamu pasti sangat khawatir. Apalagi, mamamu..”

“Mereka tidak akan pernah merasa kehilangan. Mama tidak melarangku, bahkan mengusirku.” “Itu karena beliau sedang emosi. Orang marah selalu melontarkan kata-kata yang bukan maksudnya.” Aku bangkit dan meraih tasku. Dari kata-kata Ibu Minarni, aku tahu apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan.

“Saya mengerti jika Ibu keberatan dengan permintaanku,” kataku.
“Kamu mau ke mana?” Ibu Minarni ikut berdiri.
“Pergi.”
“Lho? Bukankah kamu ingin menemui Ibu?”
“Ibu tidak bisa menerima saya tinggal di sini kan? Ibu tidak percaya cerita sayakan?” sergahku, sengit.

“Jangan buruk sangka, Mei Cen. Ibu hanya merasa tidak enak dengan keluargamu, jangan-jangan mereka menganggap Ibu yang memengaruhimu agar pergi dari rumah. Seburuk apa pun perlakuan mamamu, ia tetap orang tuamu.”

“Percayalah, Bu. Mama tidak akan pernah merasa kehilangan. Ia tidak mungkin mencari, apalagi lapor kepada polisi. Baginya, kehilangan seekor ayam lebih menyedihkan daripada kehilangan anak cacat seperti saya.”

“Hus, jangan bicara begitu! Tuhan menciptakan manusia dengan segala kebaikan, menurut rupa dan teladan-Nya. Dia tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak berguna. Baik, kau boleh tinggal di sini. Ibu akan menganggapmu sebagai anak. Ingat itu! Tapi, asal kamu tahu, Ibu bukan orang kaya. Artinya, kamu harus menerima ikan asin dan tempe sebagai makanan sehari-hari.

Setuju? ” “Ibu, terima kasih banyak! Saya berjanji tidak akan menyusahkan Ibu. Tidak akan pernah!” tekadku. “Satu lagi, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, Ibu akan tetap memberi tahu keluargamu,” katanya, tegas.

Sejak itu setiap hari aku bangun pukul 4 pagi dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ketika Ibu Minarni bangun, rumah sudah rapi dan sarapan sudah terhidang. Saat ia mengajar, aku membuat kue, lalu menjajakannya ke beberapa warung dan toko. Dari 30 tempat yang kudatangi, hanya satu yang bersedia menampung kue-kue buatanku.

Dalam beberapa bulan, aku berhasil menjaring dua toko lagi. Uangnya aku gunakan untuk membayar rekening listrik, air, dan telepon. Hingga tepat setahun kemudian, Ibu Minarni mengajakku berbicara dengan raut muka serius. Aduh, inilah saat yang paling kutakuti! Ibu Minarni pasti mengusirku! Mungkin, ia akan mengontrakkan rumah ini kepada orang lain atau mungkin membuka kos-kosan.

“Mei Cen, Ibu lihat kepercayaan dirimu sudah pulih kembali. Itu bagus. Tapi, Ibu ingin agar kamu bisa lebih mandiri. Itu sebabnya, Ibu ingin..,” Ibu Minarni sengaja memperlambat nada bicaranya. Nah, benar kan dugaanku?

“Bu, saya berterima kasih untuk semua kebaikan Ibu. Saya minta maaf karena banyak merepotkan Ibu. Kalau saya harus pergi, saya ingin..,” kataku terbata-bata, menahan isak.
“Kamu ngomong apa sih? Ibu ingin kamu kuliah..”
“Kuliah? Di sini? Tapi..”

“Ibu ingin membiayaimu. Kau bagian dari hidup Ibu. Sayang jika masa depanmu lewat begitu saja. Otakmu cemerlang. Izinkan Ibu membantumu,” tutur Ibu Minarni, lembut. Aku terperangah, antara terkejut dan senang.

“Jangan pikirkan soal balas budi. Tugasmu cuma satu, belajar sungguh-sungguh supaya bisa lulus dengan nilai baik. Supaya kamu bisa datang menemui mamamu dan mempersembahkan ijazah di pangkuannya, sebagai sebuah kebanggaan,” katanya, sambil mengusap rambutku.

Kuliah? Aku tidak sedang bermimpi bertemu malaikat kebajikan kan? Sesaat aku ragu, tapi senyuman Ibu Minarni menggambarkan ketulusannya.

Tahun pertama kuliah terasa sangat menegangkan. Perasaan minder yang hebat kembali timbul dan membuatku sulit beradaptasi dengan dunia kampus. Ke mana saja aku melangkah, rasanya setiap mata mengikuti. Hanya segelintir teman yang benar-benar bisa menerima keadaanku.

Aku sangat menyadari, betapa beruntungnya aku bisa bertemu sosok penolong seperti Ibu Minarni. Dia begitu rajin memperkenalkanku dengan Tuhan, yang tidak pernah kukenal selama ini. Dia selalu siap mendengar keluh kesahku dan giat menyemangatiku. Akan kubuktikan pada Mama bahwa aku bukan orang cacat yang bisa dianggap remeh.

Di tahun terakhir kuliah, saat aku tak lagi terlalu banyak dikejar-kejar berbagai tugas, Ibu Minarni menyuruhku mengikuti bermacam kursus. Mulai dari komputer, bahasa Inggris, sampai kursus keterampilan. Bersama dua teman Yang punya minat sama, kami belajar membuat lilin hias dalam bentuk dan warna menarik, lalu menjualnya saat bazar kampus. Di luar dugaan, semuanya laris terjual.

Tepat lima tahun kemudian, aku berjalan bangga di antara ratusan orang yang diwisuda. Terpincang-pincang aku menerima ijazah dan ucapan selamat dari para dosen.
“Ibu bangga padamu, Mei Cen! Hebat, kamu hebat!” Ibu Minarni memelukku erat-erat, sambil tersenyum puas.
“Terima kasih banyak, Bu. Entah dengan cara apa kebaikan Ibu bisa saya balas, ” kataku, penuh haru. Ibu Minarni mengibaskan tangan, lalu mendadak ia seperti teringat sesuatu.

“Kamu harus segera memberi tahu keluargamu di Siantan. Harus! Tidak boleh tidak! ” tegas Ibu Minarni. Aku seperti terkena tembakan tepat di jantung.
“Ah, tidak, Bu! Nanti saja! Saya belum siap bertemu mereka.”
“Kau tidak akan pernah siap selama hatimu terus dipelihara oleh dendam dan kebencian, Mei Cen. Belajarlah untuk bisa memaafkan mamamu. Cuma itu satu-satunya jalan.”

Aku memaksakan sebentuk senyum kaku. Ah … sayang, Ibu berhati malaikat ini bukan orang tua kandungku. Seandainya Mama bisa sehangat dan penuh kasih seperti dia. Seandainya saja aku punya kebebasan untuk memilih siapa yang melahirkanku ke dunia.

“Tidak, Bu. Saya tak ingin kembali ke sana!” tegasku. Kali ini dengan nada dingin yang tak bisa kututup-tutupi. Tak sadar, rahangku mengeras karena desakan kemarahan yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Memaafkan Mama? Mungkin, itu satu-satunya hal yang akan kulakukan jika langit runtuh.

Jakarta, September 2003

Tampaknya, penduduk kota ini selalu kesetanan setiap hari Senin. Buktinya, pukul tujuh pagi, jalan-jalan sudah dipadati kendaraan. Ditambah genangan air di sana-sini, sisa hujan semalam. Jika tidak telanjur janji dengan Pak Bramanto untuk menyelesaikan proposal proyek, aku tidak rela harus terjebak macet seperti ini.

Sudah hampir dua tahun aku berkantor di Jakarta. Pertemuanku dengan Otto Schmidt, orang Jerman yang tertarik pada pernak-pernik buatanku, membuka, sedikit pintu kesuksesan untukku. Awalnya, ia mengunjungi stan kami di acara pameran kecil di Yogya. Perbincangan kami lalu berlanjut ke tahap penjajakan kerja sama dalam bidang art & craft. Ia menyediakan sebagian besar modal dan bertanggung jawab atas pemasaran. Aku dan dua temanku menangani manajemen dan produksi. Malah, kami juga mengembangkan sayap ke bidang dekorasi rumah dan gedung.

Sampai di kantor, Mona sudah menghadangku. Tangannya menggenggam buku agenda dan beberapa surat. “Maaf, Bu, Pak Bramanto menelepon. Ia minta rapat ditunda hingga pukul dua siang nanti. Tadi malam istrinya baru melahirkan,” katanya, cepat.

“Oh, ya? ” ujarku, mengembuskan napas kesal.
“Baru saja Ibu Minarni menelepon. Katanya, sulit sekali menghubungi Ibu.”
“Ya, ponsel memang aku matikan. Ada lagi?”

“Pukul sebelas nanti akan ada tamu dari Departemen Perindustrian. Pukul empat sore Ibu diundang ke peresmian mal baru,” jelas Mona. Setelah menyerahkan beberapa berkas laporan, dia undur diri. Aku menyampirkan blazer hijau lumut pada sandaran kursi putar, lalu menekan beberapa angka di mesin telepon.

“Ibu, ada apa?”
“Mei Cen, selamat ulang tahun, Nak! Semoga Tuhan memberkatimu dengan rahmat dan kebijakan, ” sapa Ibu Minarni di ujung sana. “Hadiahnya ada di mejamu.”

Sehelai amplop putih berlogo sebuah maskapai penerbangan menarik perhatianku. Isinya, selembar tiket pesawat.
“Pontianak?”

“Kau tidak ingin menengok keadaan Mama? Kau tidak ingin menjemputnya supaya bisa melihat kehidupanmu sekarang?” Astaga, lagi-lagi topik yang sangat tidak kusukai itu muncul. “Tidak sekarang, Bu, ” jawabku pendek, sambil menaruh amplop itu di dalam laci dan menguncinya.

“Kenapa kau senang mengulur waktu, Mei Cen? Tidak baik memelihara dendam. Kamu sudah dewasa, sudah tahu yang benar dan yang salah. Jangan berkubang di dalam masa lalumu yang pahit sampai mati. Seberapa besar sih, kerugian yang akan kau dapatkan kalau memberi maaf pada ibu kandungmu sendiri?” Suara Ibu Minarni meninggi.

“Bu, kita tidak perlu bertengkar gara-gara ini, kan? Saya baru saja terjebak macet selama tiga jam dan belum sempat memeriksa laporan kerja karyawan. Masa, sih, Ibu belum bosan juga membahas masalah ini?” “Kau masih menyalahkan mamamu karena berpisah dari Erwan?”

“Tidak ada sangkut pautnya. Ada atau tidak ada Erwan, jawabanku tetap sama. Aku tidak akan pulang menemui mereka. Tidak sekarang. Tidak juga nanti. Titik.”

“Mei Cen, sadarlah, kau sedang membangun rumah di atas pasir,” keluh Ibu Minarni. Kau sedang mengerjakan hal yang sia-sia. Berdiri di tempat pijakan yang sama sekali tidak kokoh, malah makin menenggelamkan kakimu. Jangan beri tempat untuk amarah. Ingat itu baik-baik!” Ibu Minarni memutuskan hubungan. Aku termangu, mencerna setiap ucapannya.

Erwan. Kenapa nama itu harus terdengar lagi? Pria yang katanya mencintaiku apa adanya itu lebih memilih ibunya daripada bersanding denganku. Otto Schmidt memperkenalkan Erwan Namiel padaku sebagai pengusaha Property yang masih lajang di usia 38. Setahun lamanya kami berteman, hingga suatu malam ia mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Tentu saja, aku bersedia, karena ia bersumpah akan benar-benar menerima semua kekurangan yang aku miliki.

“Tidak malu punya istri cacat?” tanyaku sungguh-sungguh.
“Ah, yang penting kan kecantikan hati!” tegasnya. Ia bilang, kekuatan cinta kami akan sanggup mengalahkan semua perbedaan yang ada.

Saat Tahun Baru, Erwan mengajakku makan malam di rumahnya. Ketika melihat pandangan mata ibunya yang terkaget-kaget, aku tahu akan menghadapi masalah serius. Suasana makan malam jadi berantakan. Nyonya rumah bergegas pamit ke kamar dengan alasan kurang enak badan.

“Kau tidak pernah menceritakan keadaanku pada orang tuamu?” tanyaku sambil melempar serbet.
“Sudah, tapi tidak detail,” jawab Erwan, salah tingkah. “Tenanglah, aku toh sudah memilihmu. Aku akan membicarakannya dengan Mama,” janji Erwan. Aku tidak menemukan kejujuran di matanya.

Esok harinya, ketika ia menjumpaiku dengan wajah kusut masai, aku tahu bahwa hubungan kami tinggal tumpukan abu. “Maafkan aku.” Cuma itu.

Untuk kesekian kalinya, aku dinobatkan sebagai pihak yang kalah. Pihak yang tidak berhak menerima sebongkah cinta. Satu-satunya orang yang patut disalahkan adalah Mama. Kenapa dia sampai hati merenggut kebahagiaanku? Kenapa dia begitu kejam merampas hakku untuk hidup seperti perempuan normal lainnya? Makin aku memikirkan jawabannya, aku jadi makin gila. Dan, makin membenci Mama.

Suara Mona di saluran interkom mengejutkanku. “Maaf, Bu, ada seorang ibu mau bertemu dengan Ibu. Namanya Lin.”
“Bilang saja, aku sedang meeting dan tak bisa diganggu.” Kejutan. Dari mana Tante Lin tahu alamatku? Pasti dari Ibu Minarni. Hmm, mau apa dia datang ke sini menemuiku? Sendiri atau bersama.. ah, masa bodoh! Aku sudah bersumpah, tak akan pernah mau berurusan dengan mereka lagi. Aku tak mau menemuinya! Sore harinya, ketika aku sedang bersiap-siap menghadiri peresmian gerai baru kami di sebuah mal, Mona menyampaikan, wanita yang tadi mencariku masih setia menunggu di ruang tamu.

“Bilang saja, aku sudah pulang, Mona!”
“Dia bilang akan menunggu Ibu. Bila perlu dia akan menginap di sini.”
“Ya, terserah! Panggil satpam kalau dia macam-macam!” bentakku jengkel. Apa, sih maunya Tante Lin?

Selama tiga hari berturut-turut, Mona melaporkan, wanita itu tetap tidak beranjak dari kursinya. Ia tetap ingin bertemu denganku. Penting sekali, katanya. Di hari keempat, aku terpaksa mengalah, membuka pintu ruang kerjaku dan mengundangnya masuk. Tante Lin berjalan pelan, sambil mengedarkan pandangan. Kami duduk berhadapan seperti orang asing, saling menunggu lawan bicaranya buka mulut terlebih dulu. Akhirnya, aku tak bisa menahan diri lebih lama.

“Ada apa, Tante? Uang yang aku kirim kurang? Kurang berapa?”
Tante Lin menatapku gusar. “Bukan masalah uang. Tapi, masalah kesombonganmu! Kamu sengaja tidak mau menemui Tante, sengaja membiarkan Tante menunggu berhari-hari. Kamu benar-benar keterlaluan!”

“Salah siapa? Aku tidak pernah mengundang Tante Lin. Jadi, kalau aku tidak mau menemui tamu yang tidak aku kehendaki, wajar kan?” cetusku sambil menyipitkan mata. “Sombong! Kamu memang sudah berhasil jadi orang kaya, Mei Cen. Tapi, jangan kurang ajar pada keluarga sendiri. Jangan lupa diri. Jangan mentang-mentang..”

“Kirana. Namaku sekarang Kirana,” ujarku, meralat.
“Sudahlah Tante, kurang berapa?” potongku jemu, lalu menarik laci meja di sebelah kananku. Aku mengeluarkan segepok uang, lalu menaruhnya di meja. “Ini, lima juta.”

“Kamu betul-betul keterlaluan!” Tante Lin mengacungkan telunjuknya di depan hidungku.” Tante datang cuma untuk menyampaikan kabar bahwa mamamu sedang sakit. Stroke menghantam tangan dan kakinya sampai lumpuh. Dia sangat mengharapkanmu pulang.”

“Untuk apa? Aku, toh, bukan anaknya!”
“Jangan diingat lagi pertengkaran yang dulu, Mei Cen. Sudah kewajibanmu sebagai anak untuk merawat orang tuanya. Pulanglah, walau hanya sebentar.”

Aku menggeleng kuat-kuat, mengusir sakit hati yang merayap.
“Aku sudah cukup melakukan kewajibanku. Setiap bulan aku mengirimkan uang sebagai pengganti semua biaya yang sudah dia keluarkan untukku. Itu kan yang dia minta? Nah, aku sudah melunasinya. Berarti, aku tidak punya urusan apa-apa lagi. Silakan ambil uang itu, Tante! Aku masih banyak pekerjaan,” ucapku, sambil melangkah ke arah pintu.

“Kami tidak butuh uangmu, Ibu Kirana yang terhormat! Kau pikir, dengan mengganti nama dan identitas, kamu bisa melupakan asal-usulmu begitu saja? Kau ingin melenyapkan masa lalu? Tidak mau berhubungan dengan kami lagi? Sungguh besar dendammu pada kami!”

Bagai disiram bensin berliter-liter, amarahku tersulut. “Ya, aku memang dendam! Dendam seorang anak yang hidupnya terlunta-lunta oleh ibu sendiri. Lihat tanganku! Lihat kakiku! Siapa penyebab ini semua? Apakah Mama pernah mengakui kesalahannya, satu kali saja? Apakah pernah dia minta maaf padaku atas percobaan pembunuhan yang pernah dia lakukan dulu? Apakah dia peduli pada masa depanku dan kebahagiaanku yang terampas?” teriakku kalap. Tante Lin terenyak mundur.

Sambil berlinang air mata, aku meratap lirih, “Siapa yang pernah peduli pada perasaanku? Selalu dianggap tak ada. Bahkan, kalian sepakat mengecapku sebagai anak pembawa sial yang harus diusir keluar dari rumah. Tante tahu, bagaimana perasaanku selama belasan tahun? Sakit sekali. Padahal, aku hanya minta satu hal. Aku hanya ingin Mama menyampaikan penyesalan. Cuma itu! Terlalu kurang ajarkah permintaan itu?”

“Mamamu menyesali kejadian itu, Mei Cen. Dia ingin..”
“Maaf, banyak pekerjaan yang menunggu.” Cepat-cepat aku mengeringkan mata, lalu membuka pintu lebar-lebar. Sesaat Tante Lin ternganga, kaget melihat sikapku. Perlahan ia meraih tasnya, mengambil sebuah bungkusan tipis dan menyerahkannya padaku.

“Hadiah ulang tahun dari Mama.”
Aku menatap bungkusan itu dengan sinis.” Tumben, dia ingat ulang tahunku. Bilang padanya, terima kasih untuk kadonya yang sangat berharga. Tapi sayang, aku tak mau menerimanya.”

“Mei Cen!”
“Maaf, Tante. Selamat siang!”
Tante Lin memandangku dengan marah. Setelah puas beradu mata, ia berbalik pergi. Saat bayangannya menghilang, aku tertunduk lesu. Rasanya, sukmaku mati rasa.

Kenapa setiap kali aku ingin melupakan semuanya,selalu ada yang kembali mengungkit luka itu? Tak bisakah aku kini membangun kembali puing-puing keruntuhan hidup, tanpa harus direcoki percikan-percikan api masa silam?

Siantan-Pontianak 21 Juli 2004

Derit kereta dorong mengusik telingaku. Tiga perawat lewat di depanku mendorong seorang kakek yang terbaring di ranjang beroda. Aku mengerjapkan mata, menyusun kembali ingatanku. Rupanya, aku ketiduran dikursi. Semalaman aku bolak-balik mengintip keadaan Mama dari depan pintu kamarnya. Aku tak punya keberanian untuk menemuinya.

Ketika mengintip keadaan Mama kemarin, aku sedikit menyesal karena tidak langsung menanggapi telepon dari Tante Lin, yang sudah menghubungiku selama sebulan terakhir. Ketika kemarin ia meneleponku lagi, aku tahu, mungkin tak banyak lagi waktu tersisa.

Aku beranjak menuju ruang perawat. Informasi yang kudapat sungguh mengejutkan. Keluarga sudah membawa Mama pulang satu jam yang lalu.

“Memangnya, sudah sembuh?” tanyaku, penasaran.
“Keluarganya ingin merawat di rumah saja,” kata seorang perawat.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Dokter bilang sudah tidak ada harapan. Tinggal menunggu waktu saja,” ucap perawat itu. Jawaban itu membuatku tersentak. Tak ada harapan. Menunggu waktu. Maut sudah di ambang pintu. Mati.

Akhirnya, langkah kaki membawaku kembali ke pintu kayu yang sudah kusam dan terkelupas itu. Mataku berkaca-kaca. Inilah rumah yang pernah kutinggali dulu, saksi bisu riwayatku. Aku mendorong pintu perlahan. Sepi, tak ada siapa-siapa. Aku melambatkan langkah, menyusuri jejak masa kecilku. Beberapa pojok ruangan tampak kotor dan tak terawat.

Rupanya, seluruh anggota keluarga sedang berkumpul. Mata mereka terbelalak ketika melihatku. Tanpa berkata apa-apa, aku mendekat ke pembaringan. Bau kotoran manusia menyergap penciumanku, berbarengan dengan bau apak. Entah siapa yang mengomando, satu per satu mereka keluar.

Dengan pedih aku meneliti sekujur tubuhnya.Dari balik selimut tipis, aku melihat tonjolan tulangnya. Mukanya tirus. Kedua matanya terpejam. Tangannya terlipat di dada. Lima belas menit aku hanya memandangi wajah Mama.

Sambil mengumpulkan keberanian, aku mendekat ke telinganya dan berbisik menyapanya. Sungguh, saat ini tak tersisa benci dan dendam dalam diriku. Aku sudah melupakannya. Aku hanya ingin berkata-kata dengan Mama, menghiburnya, menjaganya.

“Mama, bisa dengar suaraku? Aku ingin minta maaf. Semestinya, aku bisa datang lebih cepat. Aku takut kita akan bertengkar lagi jika bertemu. Aku takut Mama akan mengusirku lagi.” Kuusap tangan Mama yang keriput. Kubelai wajahnya. Kusisir rambutnya dengan jari-jari tangan. Hal yang tidak mungkin aku lakukan dulu.

Bermanja-manja dan berpelukan dengan Mama hanyalah angan-angan. Sekarang, aku bisa bebas menyentuhnya. Tapi, ironisnya, dia tak sadarkan diri.

“Mama, banyak hal yang ingin kuceritakan. Mama tahu, aku tidak lagi menjual kue seperti dulu. Aku sudah tamat kuliah. Aku ingin minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan. Aku sering membuat Mama marah..” Aku terus berupaya membangunkan Mama.

Beberapa jam berlalu. Aku terus berceloteh tanpa henti. Tiba-tiba sepasang tangan menyentuh bahuku. “Dia sudah meninggal tadi pagi..” bisik Tante Lin. Bisikan itu sangat lembut, tapi efeknya sangat luar biasa. Sesaat aku termangu. Rasanya, sekujur tubuhku kosong. Hampa dan sunyi.

Baru kusadari, kepergian Mama membawa pergi sebelah hatiku. Belum sempat kami merekatkan kepingan-kepingan yang terkoyak, Tuhan memanggilnya. Aku menguatkan hati, mencoba tidak menangis. Tapi, butiran air mata jatuh juga di pangkuanku.

“Dia pergi sambil membawa penyesalan,” ujar Tante Lin, serak.
“Penyesalan karena kau tidak pernah tahu bahwa ia sudah menyadari kesalahannya, karena kau menolak hadiah darinya.”

“Hadiah? Hadiah apa?” aku memalingkan wajah pada Tante Lin.
“Aku membawanya waktu datang ke kantormu tiga tahun lalu. Kau sama sekali tidak mau menerimanya, bukan? ” ujar Tante Lin, sarat dengan kecewa. Aku menggeleng lemah.

“Tiga tahun lalu, tangan kanan mamamu sudah lumpuh. Bicara tidak jelas. ia minta disediakan kertas dan tinta. Dengan memaksakan diri, ia menuliskan kata itu dengan tangan kirinya. Ia berpesan, surat ini harus sampai di tanganmu. Harus. Surat ini hadiah ulang tahunmu. Ia ingin kau tahu, sebenarnya ia menyayangimu.”

Tante Lin lalu berjalan ke arah lemari, mengambil sesuatu, lalu mengangsurkan sebuah bungkusan. Tak sabar aku menyobek sampul dan menemukan lipatan kertas di dalamnya.

Tangisku tak terbendung. Pertahanan diriku bobol sudah. Alangkah egoisnya aku! Alangkah jahatnya! Mama, bisakah kau mendengar suaraku? Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon! Tuhan, berikan keajaiban, sekali ini saja!

Sambil terus meraung memanggil nama Mama, kuciumi kertas dalam genggaman tanganku. Tulisan yang tertera di kertas itu tampak dibuat dengan susah payah. Bentuknya acak-acakan. Sulit terbaca.

Kertas putih buram itu hanya bertuliskan satu kata: M A A F

Kisah ini bukan kisah nyata, melainkan pemenang kedua sayembara mengarang Cerber Femina 2004, dimuat di Femina No.19 – 22/2005, dengan judul asli ‘Satu Kata Maaf’ oleh Ruddy Raharjo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s