Kasih Yang Luar Biasa


Adalah kisah seorang kakek tua di Tianjin, Cina bernama Bai Fang Li. Ia adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya. Dengan keadaannya itu, tentu ia bukanlah orang yang berkelimpahan harta. Li adalah kakek yang miskin secara materi, tetapi punya hati yang luar biasa kaya.

Kemiskinan tidak membuatnya punya alasan untuk memberi, namun demikian ia terpanggil untuk menyumbangkan hampir seluruh penghasilannya kepada sebuah yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan itu juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Setiap hari Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Makan siangnya hanyalah dua buah kue kismis dan air tawar, sedang malamnya ia hanya makan sepotong daging atau sebutir telur. Baju yang ia kenakan diambil dari tempat sampah, jika mendapat beberapa helai pakaian itu sudah merupakan suatu kemewahan. Dan seluruh uang penghasilannya ia sumbangkan ke yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu.

Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar Rp. 650.000,-) yang disimpannya dengan rapi dalam suatu kotak dan menyerahkannya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan..” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis..

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbang uang sebesar RMB 350.000 (setara Rp. 470.000.000,-) di sepanjang hidupnya, yang dia berikan kepada yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan “Sebuah cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

Betapa langkanya orang-orang seperti Li, betapa mahalnya hati yang tulus dan penuh kasih seperti yang ia miliki. Di tengah kehidupan dunia yang berpusat pada kepentingan pribadi, kalau perlu saling sikut dan membinasakan demi keuntungan sendiri, apa yang dilakukan Bai Fang Li menunjukkan bahwa ternyata masih ada orang-orang berhati mulia melebihi emas di muka bumi ini.

Ketika orang terus merasa dirinya tidak mampu dan menolak membantu orang yang susah meski hanya sedikit sekalipun, Bai Fang Li menunjukkan bahwa ia masih terus bisa memberi dalam kekurangannya. Bai Fang Li membuktikan bahwa kasih tidak mengenal batas dan sekat. Dia membuktikan bahwa tidak ada alasan apapun bagi kita untuk tidak melakukan sesuatu bagi penderitaan orang lain.

Kontribusinya bukanlah sebatas kata-kata simpati saja, tetapi semua tertumpah nyata lewat pengorbanan-pengorbanan yang ia lakukan demi membantu anak-anak yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Li menunjukkan bahwa talenta sekecil apapun akan mampu memberi sumbangan besar bagi dunia. Dan Li membuktikan bahwa Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35).

Ketika dunia menunjukkan sikap penuh kebencian terhadap sesama terutama kepada orang-orang yang berseberangan, when “every men for himself” is the way to live according to the world, Li has shown the kind of heart that will shine forever like a rare diamond.

Sebagai orang percaya, kita semua dipanggil untuk menunjukkan kasih Allah yang sejati, kasih yang tidak membeda-bedakan atau mengkotak-kotakkan, kasih yang rela berkorban demi sesama tanpa terkecuali. Kasih yang nyata. Tuhan sangat menghargai setiap pengorbanan sekecil apapun yang dilakukan seseorang atas dasar kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s