Bebas


Tersebutlah sebuah kisah. Seorang pria kulit putih pergi ke pasar budak. Dia melihat seorang wanita kulit hitam diikat dan dilelang di pasar budak itu. Wanita itu begitu galak dan liar, dia mengumpat semua orang yang ada disekitarnya. Dia berusaha menendang dan mencakar siapapun yang berusaha membelinya.

Pria itu menghampiri penjual budak wanita itu dan berkata, “Aku hendak membelinya.”

Maka terjadilah tawar menawar harga, sementara wanita itu tidak berhenti dengan sumpah serapahnya. Setelah beberapa waktu, kesepakatan harga terjadi. Sang penjual menyerahkan selembar kertas yang berisi bukti kepemilikan terhadap budak barunya itu.

Pria tersebut menerima kertas itu dan mengambil tali pengikat budak itu untuk membawanya pulang. Sepanjang jalan, budak wanita itu tidak berhenti meronta dan mencoba menyerang tuan barunya agar dapat melarikan diri.

Setibanya di rumah pria tersebut, pria itu mengikat budaknya lalu duduk sambil menulis sesuatu. Setelah selesai menulis, ia menghampiri budak yang terus mengamuk itu dan melepaskan ikatannya Merasa telah bebas, budak itu bersiap menyerang.

“Tenanglah! Ini surat pembebasanmu. Sekarang engkau sudah bukan budakku, engkau bisa pergi ke manapun yang engkau inginkan. Aku membelimu supaya engkau dapat kubebaskan,” setelah berkata demikian, pria itu membukakan pintu rumahnya bagi wanita itu.

Wanita itu terdiam seketika. Dia tidak menduga hal seindah itu akan terjadi dalam hidupnya. Dengan air mata bercucuran, wanita itu memeluk kaki pria tersebut dan berkata, “Tuan, aku mau ikut engkau.. Aku mau melayanimu seumur hidupku.. Bila aku berkeliaran, pasti ada orang jahat yang menangkap aku dan nasibku akan terulang lagi di pasar budak.. Dan saat itu mungkin aku tidak akan pernah bertemu tuan lagi..”

Sahabat, seperti halnya budak wanita itu, kita pun orang yang dibelenggu oleh dosa sejak kita dilahirkan. Iblis yang memegang surat kepemilikan kita. Tapi  saat kita memutuskan untuk percaya dan dibaptis, kita adalah manusia yang baru. Surat kepemilikan kita sudah di tangan Allah melalui kematian dan kebangkitan putraNya.

Namun, ingatlah bahwa kita selalu mempunyai kehendak bebas. Tuhan kita bukan Tuhan yang memaksakan kehendakNya bagi kita. Keputusan ada di tangan kita, apakah kita akan mengisi hidup baru kita dengan kembali pada masa lalu kita, ataukah kita mengisinya dengan hidup baru dalam tuntunanNya.

Tidak selalu mudah, akan ada banyak proses yang terjadi. Namun semuanya itu untuk memurnikan kita, membentuk karakter kita, mempersiapkan kita untuk menerima yang terbaik dariNya.

Di moment Paskah ini, kita diingatkan kembali untuk berhati-hati dengan setiap keputusan yang kita buat. Jangan sia-siakan pengorbanan Kristus, sahabat. Selamat Paskah. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s