catatan kecil seramania


Salam Seramania Nusantara, sekadar catatan kecil menuju kebersamaan.

Ketika saya memulai memelihara Serama sekitar akhir tahun 2004 saya tidak pernah mengira dan terlintas sediktipun kalau serama sebagai hewan peliharaan yg di konteskan bisa se booming dan seramai ini, terlebih lagi setelah hantaman isu ‘Flu Burung’ yang boleh dikatakan menghancurkan semangat pencinta serama sampai ke akar2nya tanpa ada harapan sedikitpun untuk serama dapat bangkit kembali di kemudian hari. Medio 2009 boleh dikatakan mulai bergeraknya tanda-tanda kebangkitan Serama di tanah air dengan mulai ramainya pertukaran informasi dan perkenalan sesama penggemar ayam di situs jejaring sosial Facebook.  Komunitas-komunitaspun mulai bermunculan seiring dengan farm-farm serama yang muncul bak jamur di musim hujan.  Media cetak pun mulai menyulut ramainya penggemar serama tanah air, TRUBUS, FLONA, dan Agrobiss di tambah media cetak lokal dan juga media-media televisi.

Sahabat-sahabat lama yang hampir semuanya tiarap selama beberapa tahun kebelakang mulai kembali ke habitat hoby lamanya yaitu ‘Ayam Serama’.  Penggemar dan penghoby barupun mulai bermunculan dan yang menjadi fenomena saya adalah penggemar serama dari wilayah timur kepulauan Jawa boleh dikatakan mereka berkembang sangat cepat, hal ini mungkin akibat berevolusinya para pencinta tanaman hias yang pamornya mulai redup menjadi pencinta ayam serama

Kontes ayam seramapun mulai marak diselenggarakan,  terutama di pulau Jawa berawal dari kontes Bekasi yang diselenggarakan olehj rekan-rekan sahabat dari APASI pada medio 2010 lanjut kemudian dengan kontes Nasional di Kediri diteruskan oleh rekan-rekan dari PASIR dan terus berkelanjutan sampai sekarang hampir tiap bulan ada even-even kontes berskala Nasional di selenggarkan dengan jumlah peserta yang semakin banyak dan meningkat.

Saya dan banyak penggemar serama lainnya sangat bersenang hati dengan fenomena yang terjadi sekarang ini sambil berdoa dan berharap jangan sampai ada isu-isu flu burung ataupun isu apapun yang bisa meruntuhkan kebersamaan ini. Harapan doa saya sepertinya saya rasakan terkabulkan sampai  saya mulai merasakan akan tersebarnya virus lain yang bukan mematikan sang ‘hewan Serama’ tetapi sang ‘penggemar Serama’ itu sendiri, tapi mudah2an perasaan saya ini salah. Sebelumnya saya mohon maaf ungkapan hati saya ini bukan bermaksud menyindir pribadi, golongan ataupun kelompok2 pencinta serama di tanah air tetapi demi keberlangsungan penggemar dan pencinta serama Indonesia tanpa ada pihak-pihak yang dirugikan.  Memang akhir-akhir ini banyak orang2 yang mencoba mengambil kesempatan untuk meraih keuntungan financial pribadi yang besar dengan menjual anakan-anakan ayam yang bukan murni serama dengan harga yang sangat tinggi (Karena memang walaupun belum ada data statistiknya hanya berdasarkan statistik pribadi, serama yg paling banyak dicari dan di beli adalah anakan2 yg berumur 3bulan kebawah). Saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada pihak2 yang ingin bermain disitu, tapi paling kita-kita yang mengerti tentang serama yang bisa menjelaskan kepada mereka yang baru pengen mulai memelihra serama untuk waspada dan hati-hati.  Kita pun yang sudah memelihara pure/murni serama juga tidak bisa menjamin 100% kalau anakan yang kita jual ke peminatnya akan sesuai dengan harapan si pembeli apabila serama tersebut tumbuh besar, karena kita harus ingat kembali kalau serama ini bukan merupaka unggas yang memiliki genus tersindiri tapi merupakan hasil perkawinan-perkawinan yang menghasilkan genus baru yaitu ‘Serama’.  Terlebih lebih sekarang ini dengan istilah anakan import yang mulai membingungkan pemain-pemain baru, kepada pemilik ayam serama import pun saya harapkan untuk berhati-hati dalam menjual anakan hasil indukan importnya, karena saya melihat sebagian dari pembeli2 ayam anakan  mengharapkan anakan yang dibeli bakal tumbuh besar seperti induknya.  Karena sekarang ini saya tidak bisa lagi melihat ayam-ayam berdasarkan bloodline/garis keturunannya saya merasakan hal ini karena di Malaysainyapun sudah mulai lebih besar sisi ‘komersialitasnya dan sisi pertandingannya’ yang mana mereka melegalkan yang seharusnya ilegal dalam suatu pertandingan atau kontes kecantikan hewan.

Ayam Serama yang begitu elok dipandang ketika ia bergaya diatas meja kontes, ibarat lukisan atau pun seni yang berjalan yang hidup yang dapat menghipnotis yang melihatnya dan memandangnya mulai bergeser manjadi sebuah benda hidup yang dijadikan alat untuk memamerkan status sosial dan kebanggaan pribadi, dengan harga-harga ayam yang di beli pemiliknya puluhan sampai ratusan juta rupiah terlepas dari  originalitas dan ketidak originalnya ayam tersebut demi memenangkan sebuah piala dan piagam yang nilainya tidak lebih dari tigaratus ribu rupiah.  Seorang teman yang baru ingin memelihara ayam serama menyatakan, kalo begitu siapapun bisa memenangi kontes ayam serama sekarang ini asalkan orang itu berkantong tebal. Betul sekali kata kawan saya ini kasihan juga buat mereka yang ingin turut meramaikan sebuah kontes harus mundur teratur karena serama yang dia pelihara dari kecil yang dibeli dari hasil bertukang ataupun menyupir angkot mustahil bisa menang dengan ayam-ayam import yang harganya ratusan juta rupiah.  Memang kita sudah begitu identik dengan sesuatu yang instan kalo bisa beli yang juara kenapa harus nunggu lama-lama untuk jadi juara.

Seramania Nusantara tulisan ini saya buat agar kita semua bisa sejenak merenung dan introspeksi dan juga memikirkan bersama bagaimana agar serama di tanah air ini keberadannya dan kehebohannya bisa berlangsung lama dan terus menerus serta penggemarnya dapat semakin banyak lagi dan bukan hanya eksklusif dapat dinikmati keindahannya oleh golongan-golongan tertentu saja. Murah bukan berarti murahan dan mahal bukan berarti tinggi  dan tidak bisa dijangkau oleh golongan bawah

Memang hidup ini tak ada yang sempurna  didalm suatu sisi yang positip pasti akan ada hal negatip akan muncul, tetapi apabila kita melangkah bersama-seiring dan sejalan mudah2han hal-hal yang negatip ini bisa kita minimallisir. Oleh karena itu mulai lah kita pikirkan bersma suatu wadah Nasional yang bisa meminimalisir semua aspek negatip yang sudah muncul dan menghapuskan yang akan muncul.

Untuk sahabat-sahabat seramania Nusantara saya mohon maaf apabila didalam tulisan ini ada kalimat2 yg menyinggung ataupun sampai melukai hati daripada shabat seramnia Nusantara sekali lagi saya mohon maaf.  Memang apa yang saya ungkapkan diatas semua kembali kepada pribadi manusianya masing-masing dan itu adalah hak pribadi masing-masing, dan memang ternyata di dalam hoby serama ini ‘Honesty is not the best policy’

Sumber:

Bernie BSF notes

2 responses to “catatan kecil seramania

  1. Saya sangat setuju dengan pendapat anda mengenai ayam serama lokal dan inport,,,,
    sebenarnya yg menghantui saya adalah ayam serama inport,,,,seharusnya kita sebagai penghoby ayam serama harus memposisikan atau menyamakan mana lokal dan mana inport

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s